Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Menguji Kekuatan Tiang Masjid Al Anwar di Lampung

Menguji Kekuatan Tiang Masjid Al Anwar di Lampung

  • account_circle mbahdot
  • calendar_month Ming, 2 Apr 2023
  • visibility 127
  • comment 0 komentar

Tak hanya sekitar 700 naskah dan buku agama berusia ratusan tahun yang ditulis dalam beberapa bahasa, Masjid Al Anwar juga menyimpan meriam buatan kolonial.

Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Menurut laporan The Royal Islamic Stategic Studies Centre (RISCC) tahun 2022, populasi umat Islam di tanah air sudah mencapai 237,56 juta jiwa dari sekitar 276 juta penduduk Indonesia.

Jumlah tersebut setara dengan 86,7 persen populasi rakyat Indonesia, dan tersebar di penjuru daerah, termasuk di Lampung, provinsi yang menjadi pintu gerbang Pulau Sumatra dengan Jawa.

Kehadiran umat Islam di Lampung sudah terjadi sejak ratusan tahun lampau yang ditandai oleh beberapa peninggalan bersejarah keagamaan, seperti surau dan masjid.

Masjid Al Anwar menjadi rumah ibadah umat Islam pertama yang berdiri di provinsi berjuluk Sai Bumi Ruwa Jurai atau Satu Bumi Dua Jiwa tersebut. Letaknya di Jalan Laksamana Malahayati nomor 100, Kelurahan Kangkung, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandarlampung.

Masjid yang terletak tak jauh dari pusat perdagangan Malahayati itu awalnya dibangun oleh para saudagar dan ulama perantau dari Bugis, Sulawesi Selatan, pada 1839. Seperti dikutip dari Dunia Masjid, beberapa tokoh asal Bugis seperti Daeng Sawijaya, Tumenggung Muhammad Ali, Penghulu Besar Kiai Muhammad Said, serta tokoh ulama dan pejuang dari Kesultanan Bone, Muhammad Soleh bin Karaeng, adalah sosok pendiri masjid.

Semula rumah ibadah itu bentuknya hanya berupa surau sederhana, yang dibangun bergotong royong bersama para pedagang dan nelayan yang tinggal di sekitarnya. Setelah berdiri menjadi pusat ibadah umat Islam di Teluk Betung dan sekitarnya, surau sederhana itu dimanfaatkan pula untuk majelis taklim dan sarana pendidikan Islam.

Ketika baru 44 tahun berdiri, terjadilah peristiwa meletusnya Gunung Krakatau. Diawali oleh meluncurnya awan panas setinggi 9,4 kilometer sejak Mei 1883, gunung api yang berada di tengah Selat Sunda itu tanpa ampun menggelegarkan suara yang memekakkan telinga penduduk di Sumatra dan Jawa pada 27 Agustus 1883.

Bahkan, suara letusannya sampai terdengar ke daratan Australia yang jaraknya sekitar 4.500 km dari lokasi bencana.

Menurut Simon Winchester dalam bukunya Krakatoa: The Day the World Exploded August 27, 1883 disebutkan bahwa suara letusan Krakatau terus berlangsung selama 21 jam tanpa henti. Kekuatan letusannya setara 10.000 kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima, Jepang.

Bukan itu saja, karena akibat letusan selain menenggelamkan gunung hingga ke dasar selat, juga menimbulkan dinding air setinggi hampir 50 meter.

Gelombang raksasa itu tak hanya melenyapkan permukiman warga di daratan pesisir Anyer, Pulau Jawa, melainkan juga sampai ke pesisir Bandarlampung. Banyak bangunan warga di pesisir Bandarlampung sampai Teluk Betung yang rata dengan tanah termasuk surau yang dibangun oleh masyarakat perantau dari Bugis. Ribuan orang turut menjadi korban karena tersapu ombak atau terkena awan panas dari Krakatau.

Putih Telur

Selang lima tahun kemudian, dimotori Daeng Sawijaya serta dibantu para saudagar Bugis yang bermukim di Palembang, Banten, dan Bugis, mereka mulai membangun kembali rumah ibadah yang baru di lokasi lama. Mereka tak lagi mendirikan surau, melainkan sudah berbentuk masjid dengan bangunan permanen.

Mereka menamainya dengan Masjid Al Anwar yang berarti bercahaya dan diharapkan rumah ibadah ini menjadi sumber cahaya kehidupan yang dapat menerangi umat. Masjid ini juga ditopang oleh enam sokoguru atau tiang di bagian interior dalam bangunan dan melambangkan enam pokok rukun iman dalam Islam.

Menariknya, tiang-tiang yang menjulang menopang konstruksi atas bangunan tersebut tidak dibuat dari adukan semen melainkan campuran putih telur ayam dengan kapur. Mereka meyakini, adukan putih telur ayam dan kapur jauh lebih kuat merekat dibandingkan bahan apa pun.

Hal itu terbukti, keenam sokoguru yang dicat warna putih itu sanggup menopang bangunan masjid untuk tetap berdiri kokoh sampai hari ini. Bangunan masjid yang didirikan oleh Daeng Sawijaya dan para perantau Bugis itu luasnya mencapai 1.000 meter persegi di atas lahan sebesar 6.500 m2.

Masjid ini dibangun dengan banyak sekali jendela bukaan agar udara di dalamnya tetap sejuk. Maklumlah, lokasinya berada di kawasan pesisir yang selalu terik sepanjang tahun. Selain sebagai rumah ibadah, Masjid Al Anwar ketika masa perjuangan mengusir penjajah, sering dijadikan tempat untuk mengatur strategi perang oleh para tokoh prakemerdekaan asal Lampung.

Ditulis dalam buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, sejumlah tokoh perjuangan tersebut, di antaranya, adalah Haji Alamsyah Ratu Prawiranegara, Kapten Subroto, KH Nawawi, dan KH Thoha.

Naskah Tua

Selain sebagai pusat pengembangan agama Islam di Bandarlampung, di masjid bersejarah ini tersimpan Al-Qur’an yang berusia lebih tua dari berdirinya Masjid Al Anwar. Masih tersimpan pula sekitar 700 naskah dan buku agama Islam berusia di atas 150 tahun dalam bahasa Melayu, Portugis, Arab, dan Belanda.

Naskah-naskah tersebut tersimpan rapi di sebuah ruangan khusus. Menurut salah satu takmir masjid bernama Sumantara, seperti diwartakan oleh Antara, bangunan Masjid Al Anwar pernah direnovasi beberapa kali pada masa pascakemerdekaan.

Renovasi pertama dilakukan pada 1962 untuk memperluas serambi selatan, utara, dan timur supaya mampu menampung sekitar 500 jemaah. Renovasi selanjutnya terjadi pada 1972 guna memperluas bangunan masjid karena semakin bertambahnya jumlah jemaah yang salat. Turut dibangun pula menara masjid setinggi 20 meter.

Perluasan tersebut membuat bangunan masjid sanggup menampung hingga 2.000 jemaah. Kemudian, renovasi terbaru dilakukan selama dua tahun, yakni 2015–2016, yaitu mengganti atap masjid dari genteng tanah liat menjadi beratap baja. Konstruksi atapnya ikut diperkuat dengan baja ringan. Selain itu, masjid ini masih menyimpan meriam buatan kolonial Belanda.

“Di masa lalu meriam itu dipakai sebagai penanda imsak dan buka puasa karena pada masa itu belum ada sirine. Kami juga masih menyimpan beduk kecil yang dipakai untuk membuka acara Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional tahun 1988 di Way Halim. Masjid ini suka dipakai menginap jemaah, terutama dari Jawa, yang berziarah di beberapa tempat di Lampung,” jelas Sumantara.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Lampung dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung telah menetapkan Masjid Al Anwar sebagai masjid bersejarah dan tertua di Lampung dan Kota Bandarlampung. Masjid Al Anwar di usianya yang ke-135 tahun sejak dibangun ulang, masih menjalankan fungsinya sebagai rumah ibadah dan tampak terawat.

Penulis: Anton Setiawan

  • Penulis: mbahdot

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahtiar Apresiasi Menteri Sosial atas Bantuan untuk Korban Banjir di Mamuju

    Bahtiar Apresiasi Menteri Sosial atas Bantuan untuk Korban Banjir di Mamuju

    • calendar_month Sel, 28 Jan 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 113
    • 0Komentar

    MAMUJU – Penjabat Gubernur Sulbar Bahtiar Baharuddin berterima kasih atas kepedulian Kementerian Sosial yang telah mendistribusikan bantuan untuk korban banjir dan longsor di Mamuju. Bahtiar juga berterima kasih atas kekompakan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Sulbar, Pemkab Mamuju, dan instansi vertikal lainnya yang kompak dalam penanggulangan bencana. “Terima kasih tim penangggulangan yang kompak dil lapangan […]

  • RSUD Sulbar Bersama Biro Ekbang, Bahas Pengelolaan Limbah dan Sanitasi

    RSUD Sulbar Bersama Biro Ekbang, Bahas Pengelolaan Limbah dan Sanitasi

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 84
    • 0Komentar

    MAMUJU – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulawesi Barat menerima kunjungan dari Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat, khususnya Bagian BUMD dan BLUD, Kamis, 5 Maret 2026. Rombongan Biro Ekbang diterima langsung oleh Kepala Bidang Penunjang Medik RSUD Provinsi Sulawesi Barat Bachtiar bersama jajaran terkait. Pertemuan berlangsung di Ruang […]

  • Kemkomdigi Pastikan CKG Sekolah Jangkau 53 Juta Peserta Didik lewat Teknologi Digital

    Kemkomdigi Pastikan CKG Sekolah Jangkau 53 Juta Peserta Didik lewat Teknologi Digital

    • calendar_month Rab, 6 Agu 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 173
    • 0Komentar

    TANGERANG – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan komitmennya dalam memastikan program itu menjangkau 53 juta peserta didik di seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, tanpa ada yang tertinggal. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berperan aktif mendukung implementasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah 2025 melalui penyebaran informasi dan pemanfaatan teknologi digital. Menteri […]

  • Sepakat! Indonesia-Korea Perluas Kolaborasi dari Sektor Bisnis hingga Pertukaran Budaya

    Sepakat! Indonesia-Korea Perluas Kolaborasi dari Sektor Bisnis hingga Pertukaran Budaya

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 234
    • 0Komentar

    JAKARTA – Presiden Lee Jae Myung menekankan bahwa hubungan antara Republik Korea dan Indonesia telah berkembang pesat dan kini mencakup berbagai sektor strategis. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Korea, Lee Jae Myung, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2025, di Hwabaek International Convention […]

  • Wakili Indonesia di Jambore Pramuka Dunia, Ridwan Kamil Lepas Kepergian Kontingen Jabar

    Wakili Indonesia di Jambore Pramuka Dunia, Ridwan Kamil Lepas Kepergian Kontingen Jabar

    • calendar_month Kam, 20 Jul 2023
    • account_circle mbahdot
    • visibility 131
    • 0Komentar

    KOTA BANDUNG — Gubernur Ridwan Kamil melepas kepergian 513 pramuka Kwarda Jawa Barat yang akan mewakili Kontingen Indonesia pada ajang World Scout Jambore atau Jambore Pramuka Dunia 2023. Jambore Pramuka Dunia ke-25 akan berlangsung di Korea Selatan pada 2-12 Agustus 2023 diikuti pramuka dari 156 negara. Indonesia mengirimkan 1.700 perwakilan,  513 orang di antaranya pramuka […]

  • E-Parkir Pasar Sentral Majene Dilaunching

    E-Parkir Pasar Sentral Majene Dilaunching

    • calendar_month Rab, 29 Mar 2023
    • account_circle mbahdot
    • visibility 149
    • 0Komentar

    MAJENE – Sistem parkir elektronik atau yang disebut e-parking menjadi salah satu inovasi sistem perparkiran yang tengah dikembangkan di beberapa daerah untuk mengatasi berbagai permasalahan perparkiran yang ada di masyarakat. Sistem parkir elektronik (e-Parkir) juga mulai diuji coba di Kabupaten Majene tepatnya di Pasar Sentral Majene, Rabu (29/03/2023). Sebagai tindak lanjut Surat Sekretaris Daerah (Sekda) […]

expand_less