Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Melestarikan Kerbau Berharga Miliaran dari Tana Toraja

Melestarikan Kerbau Berharga Miliaran dari Tana Toraja

  • account_circle Pro Indonesia
  • calendar_month Ming, 2 Apr 2023
  • visibility 110
  • comment 0 komentar

Ada 10 jenis kerbau yang berkembang biak di wilayah Tana Toraja, dari yang bernilai jual sekitar Rp50 juta sampai berharga fantastis, yakni di kisaran Rp1 miliar, bahkan lebih.

Kerbau adalah hewan bertanduk yang banyak dipelihara oleh masyarakat dari berbagai suku bangsa di dunia. Demikian pula bagi masyarakat suku Toraja di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, yang menempatkan satwa memamah biak itu sebagai hewan spesial.

Tedong, demikian masyarakat setempat menyebutnya, merupakan lambang status sosial dan komponen penting dalam aktivitas adat. Khususnya, saat diadakan rambu solo atau upacara kematian. Kegiatan itu sudah berlangsung turun-temurun sejak berabad silam di Toraja.

Upacara ini dianut oleh masyarakat Toraja yang masih menjalankan kepercayaan Aluk Tolodo. Setiap keluarga ahli waris akan berupaya sekuat tenaga menghadirkan kerbau sebagai bentuk persembahan kepada kerabat mereka yang wafat.

Semakin banyak kerbau yang disiapkan, maka akan semakin menunjukkan status sosial dari keluarga yang ditinggalkan. Itulah sebabnya, acap dalam setiap upacara rambu solo, jumlah kerbau yang disiapkan untuk disembelih bukan hanya seekor, melainkan mencapai belasan, puluhan, bahkan hingga ratusan ekor.

Menurut Kepala Stasiun RRI Makassar Ferdy Kusno, ketika menjalani ujian disertasi doktor sosiologi di Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, pada 15 Juni 2022, bagi orang Toraja pemotongan kerbau saat rambu solo bukan semata terkait pada ritual atau status sosial. “Ini lebih sebagai harga diri dan bentuk bakti dan cinta keluarga yang ditinggalkan kepada yang meninggal. Kerbau di dalam kepercayaan Aluk Tolodo dipercaya sebagai wahana si arwah untuk mencapai nirwana,” kata Ferdy, dalam disertasinya seperti dikutip dari website UMM.

Bisa dibayangkan berapa banyak rupiah yang harus disiapkan sekali menggelar upacara kematian tersebut. Usai disembelih dan dagingnya dibagikan kepada seluruh warga, pihak keluarga pelaksana rambu solo umumnya akan meletakkan tanduk-tanduk kerbau di salah satu pasak atau tiang depan bangunan tongkonan, rumah adat masyarakat Toraja.

Namun, tak semua jenis kerbau bisa diikutsertakan dalam upacara rambu solo. Setidaknya kerbau dengan ciri khas belang, yakni warna kulitnya didominasi putih dan hitam saja, yang bisa disembelih.

Ada 10 jenis kerbau belang yang biasa dilibatkan masyarakat untuk dijadikan hewan persembahan. Kerbau ini pun terbagi kastanya, dari terendah sampai tertinggi. Misalnya untuk kasta terendah adalah tedong bulan atau kerbau albino dan tedong sambao yang berciri dominan putih ditambah sedikit bercak kelabu di tubuhnya. Selanjutnya adalah tedong tekken langi’ atau tongkat langit yaitu kerbau yang tanduknya seolah menusuk ke langit di mana tanduk kiri menjulang ke atas dan tanduk kanan justru mengarah ke bawah.

Lalu ada lagi, tedong sokko atau kerbau dengan tanduk mengarah ke bawah, hampir bertemu di bawah lehernya. Tedong balian lebih unik lagi, karena tanduk di kiri dan kanan memanjang hingga berukuran 2 meter.

Masih ada kerbau bertubuh kekar dan kokoh, biasa dipakai untuk bertarung. Ada tiga jenis, yaitu tedong pudu’ yang berwarna hitam pekat, tedong todi’ berciri bercak putih di dahi atau kepala serta di antara kedua tanduknya. Per ekor jenis-jenis kerbau itu biasanya di kalangan peternak di Toraja dihargai antara Rp40 juta–Rp200 juta.

Tetapi, mereka kalah oleh kasta atas kerbau belang yaitu lotong boko’, tedong bonga, dan tedong saleko. Ketiga jenis mempunyai ciri yang hampir sama, yakni dominan putih dan ada corak hitam di kepala, perut, atau pundak dan sebagian kaki. Harganya di kalangan peternak bisa mencapai Rp400 juta–Rp500 juta per ekornya.

Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan banderol harga tedong saleko yang berciri tanduk warna putih gading, bola mata putih, bagian kepala seluruhnya putih, dan bercak hitam dan putihnya mirip sapi Holestein Friesian. Mau tahu harganya? Bisa di kisaran Rp1 miliar–Rp1,5 miliar seekornya. Biasanya, tedong saleko ini paling dicari oleh keluarga kalangan bangsawan atau kaum berduit Toraja untuk rambu solo.

Pembiakan Buatan

Sejatinya, kerbau belang masuk ke dalam rumpun kerbau rawa Asia (Bubalus bubalis carabanensis) yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia. Hanya saja, untuk jenis kerbau belang, populasinya paling banyak ditemui di Toraja. Kehadiran kerbau belang dan mengapa bisa terbentuk seperti itu sempat menjadi sebuah misteri sebelum akhirnya berhasil dipecahkan oleh tim peneliti gabungan pada awal 2022.

Tim itu berisi pakar peternakan dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran IPB University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ketika masih bernama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Swedish University of Agriculture Sciences dan Uppsala University, keduanya di Swedia. Mereka bekerja sejak 2015.

Menurut Guru Besar Besar Pemuliaan dan Genetika Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor, yang ikut dalam penelitian, seperti dikutip dari IPB Today Volume 715 Tahun 2022, pihaknya berhasil menganalisis mekanisme genetik pemunculan pola belang melalui tes deoxyribonucleic acid (DNA). Hal itu dilakukan setelah tim mengambil contoh sperma dari kerbau yang baru beberapa saat disembelih atas izin dari penyelenggara rambu solo.

Apalagi ada beberapa sifat kerbau belang yang membuatnya sulit untuk berkembang secara alami, salah satunya karena tingkat kematian embrio dan anak kerbau belang yang tinggi selain tingkat kesuburannya yang rendah. “Analisis tes DNA difokuskan pada gen microphthalmia-associated transcription factor (MITF) yang secara umum mengatur kemunculan warna belang (spotted) pada kerbau rawa Asia. Untuk mendeteksi terjadinya mutasi gen, semua ekson MITF serta daerah intron dan pengapitnya diteliti secara seksama,” terang Ronny.

Sedangkan sejawat Ronny dari Swedish University, Göran Andersson, yang sekaligus memimpin penelitian tersebut menjelaskan bahwa munculnya warna putih membuktikan adanya kegagalan dalam perkembangan dan migrasi melanosit. Ini adalah sel yang menghasilkan pigmen melamin.

“Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk melihat gen yang disebut MITF. Yang kami tahu sangat penting untuk perkembangan melanosit,” jelas Andersson seperti dikutip dari website universitas yang berpusat di Uppsala, sekitar 70 kilometer arah utara dari Ibu Kota Stockholm.

Andersson menambahkan, peneliti BRIN bernama Yulnawati Yusnizar yang ikut di dalam penelitian diketahui sudah melakukan penangkaran kerbau belang di Pusat Konservasi dan Pembiakan Kerbau Indonesia di BRIN, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Melalui metode in vitro, dilakukan identifikasi embrio yang nantinya akan berkembang menjadi tedong bonga.

BRIN sendiri ketika masih bernama LIPI pernah melakukan upaya pembiakan kerbau belang jenis tedong bonga pada 2000 silam di Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI di Cibinong. Bibitnya sebanyak empat ekor berasal dari pemberian Pemerintah Provinsi Sulsel pada 1996 kepada Presiden RI Soeharto. Salah satu kerbau betina berhasil tiga kali bunting.

Masa kehamilan pertama terjadi abortus di usia empat bulan karena tidak berkembangnya janin. Kemudian, pada kehamilan kedua, anak kerbau belang lahir prematur di usia bunting induk delapan bulan dari 11 bulan normalnya janin kerbau di kandungan. Anak kerbau berjenis albino itu hanya bisa bertahan hidup beberapa hari dan mati.

Baru pada masa kehamilan ketiga, induk melahirkan anak kerbau jenis tedong saleko berkelamin jantan pada 3 Desember 2000. Saat itu, teknologi yang dikembangkan adalah transfer embrio, yaitu menanam embrio yang dibuat lewat pembuahan buatan di laboratorium, kemudian ditanamkan kepada kerbau lain.

Supaya mendapatkan lebih banyak lagi sel telur, induk betina diinduksi hormon setiap dua bulan. Lewat upaya tersebut, saat itu LIPI meyakini dapat dihasilkan 20–30 anak kerbau belang setiap tahun dengan penyuntikan embrio beku ke rahim induk kerbau betina di Toraja dan di Cibinong.

Maria Wilbe, rekan Andersson dari Uppsala University, menyebutkan bahwa pengungkapan misteri itu akan membantu Indonesia untuk melestarikan kerbau belang seperti tedong bonga dan tedong saleko yang sudah langka di dunia dan hanya ada di Toraja. “Teknologi pengembangan embrio yang memiliki mutasi sangat spesifik ini dapat dipakai untuk meningkatkan populasi kerbau belang sehingga kekayaan fauna Indonesia ini dapat terus dilestasikan,” kata Wilbe.

Semoga saja semua upaya yang melibatkan rekayasa teknologi itu, selain dapat menjaga kelestarian si belang yang bernilai ekonomi tinggi, juga mampu memperbanyak populasinya di bumi Toraja kelak.

Penulis: Anton Setiawan

  • Penulis: Pro Indonesia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Taman Nasional Betung Kerihun, Surga Hayati di Tapal Perbatasan

    Taman Nasional Betung Kerihun, Surga Hayati di Tapal Perbatasan

    • calendar_month Kam, 4 Mei 2023
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Sebagai destinasi wisata, Taman Nasional Betung Kerihun seluas 800.000 hektare, memiliki objek wisata alam yang eksotis. Indonesia memiliki berbagai jenis keanekaragaman hayati yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Keanekaragaman tersebut merupakan salah satu bentuk kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Kekayaan keanekaragaman hayati itu kini lebih mudah dinikmati, karena sebagian besar berada di dalam satu lokasi […]

  • Gamagora 7, Varietas Padi Baru Tahan Hama

    Gamagora 7, Varietas Padi Baru Tahan Hama

    • calendar_month Sel, 25 Apr 2023
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Varietas padi unggul gamagora 7 dilepas ke publik. Varietas ini cocok ditanam pada lahan sawah maupun tadah hujan. Hasil panen 7,95 ton per hektare dengan umur sekitar 119 hari setelah semai. Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melepas varietas padi unggul inbrida G7 dengan nama gamagora 7 ke publik. Pelepasan dilakukan setelah varietas itu mengantongi surat […]

  • Kejurnas Catur ke-50: Wagub Sulbar Dorong Lahirnya Talenta Baru dan Gairah Ekonomi

    Kejurnas Catur ke-50: Wagub Sulbar Dorong Lahirnya Talenta Baru dan Gairah Ekonomi

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 117
    • 0Komentar

    MAMUJU — Wakil Gubernur Sulawesi Barat Salim S. Mengga, secara resmi membuka Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-50 sekaligus Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) ke-45 tahun 2025, di Mamuju, Jumat 7 November 2025. Pembukaan ajang bergengsi ini turut dihadiri oleh Ketua Umum PB PERCASI Drs. GM Utut Adianto, jajaran pengurus PERCASI pusat, […]

  • 14 Cara Mengatasi Ejakulasi Dini yang Ampuh dan Aman

    14 Cara Mengatasi Ejakulasi Dini yang Ampuh dan Aman

    • calendar_month Ming, 5 Mar 2023
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Ada berbagai cara mengatasi ejakulasi dini, baik yang bisa dilakukan sendiri di rumah maupun dengan penanganan dari dokter. Meskipun ejakulasi dini tidak berbahaya dan cukup umum terjadi, kondisi ini bisa menjadi masalah psikologis yang sampai membuat penderitanya frustrasi. Sperma keluar terlalu cepat, yakni kurang dari 1 menit setelah penetrasi atau masturbasi, dapat dikatakan sebagai ejakulasi dini. […]

  • Penguatan Organisasi dan Inovasi Program Jadi Agenda Utama LPTQ Sulbar

    Penguatan Organisasi dan Inovasi Program Jadi Agenda Utama LPTQ Sulbar

    • calendar_month Sel, 2 Des 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 79
    • 0Komentar

    MAMUJU – Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Sulawesi Barat Junda Maulana memimpin silaturahmi dan rapat koordinasi internal pengurus baru pwriode 2025-2030, Senin 1 Desember 2025. “Tadi banyak dibahas seperti indeks literasi membaca Al Quran kita yang 60 persen lebih, masih kategori rendah,” kata Junda. Sehingga, ini menjadi tantangan bagi pengurus baru untuk meningkatkan indeks […]

  • Junda Maulana Respon Respon Polemik THR PPPK

    Junda Maulana Respon Respon Polemik THR PPPK

    • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 42
    • 0Komentar

    MAMUJU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menjelaskan alasan belum dibayarkannya Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan PPPK Paruh Waktu. Keterbatasan kemampuan fiskal daerah menjadi faktor utama yang membuat pemerintah belum mampu memenuhi pembayaran tersebut. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulbar selaku Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Junda Maulana […]

expand_less