Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Melestarikan Kerbau Berharga Miliaran dari Tana Toraja

Melestarikan Kerbau Berharga Miliaran dari Tana Toraja

  • account_circle Pro Indonesia
  • calendar_month Ming, 2 Apr 2023
  • visibility 146
  • comment 0 komentar

Ada 10 jenis kerbau yang berkembang biak di wilayah Tana Toraja, dari yang bernilai jual sekitar Rp50 juta sampai berharga fantastis, yakni di kisaran Rp1 miliar, bahkan lebih.

Kerbau adalah hewan bertanduk yang banyak dipelihara oleh masyarakat dari berbagai suku bangsa di dunia. Demikian pula bagi masyarakat suku Toraja di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, yang menempatkan satwa memamah biak itu sebagai hewan spesial.

Tedong, demikian masyarakat setempat menyebutnya, merupakan lambang status sosial dan komponen penting dalam aktivitas adat. Khususnya, saat diadakan rambu solo atau upacara kematian. Kegiatan itu sudah berlangsung turun-temurun sejak berabad silam di Toraja.

Upacara ini dianut oleh masyarakat Toraja yang masih menjalankan kepercayaan Aluk Tolodo. Setiap keluarga ahli waris akan berupaya sekuat tenaga menghadirkan kerbau sebagai bentuk persembahan kepada kerabat mereka yang wafat.

Semakin banyak kerbau yang disiapkan, maka akan semakin menunjukkan status sosial dari keluarga yang ditinggalkan. Itulah sebabnya, acap dalam setiap upacara rambu solo, jumlah kerbau yang disiapkan untuk disembelih bukan hanya seekor, melainkan mencapai belasan, puluhan, bahkan hingga ratusan ekor.

Menurut Kepala Stasiun RRI Makassar Ferdy Kusno, ketika menjalani ujian disertasi doktor sosiologi di Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, pada 15 Juni 2022, bagi orang Toraja pemotongan kerbau saat rambu solo bukan semata terkait pada ritual atau status sosial. “Ini lebih sebagai harga diri dan bentuk bakti dan cinta keluarga yang ditinggalkan kepada yang meninggal. Kerbau di dalam kepercayaan Aluk Tolodo dipercaya sebagai wahana si arwah untuk mencapai nirwana,” kata Ferdy, dalam disertasinya seperti dikutip dari website UMM.

Bisa dibayangkan berapa banyak rupiah yang harus disiapkan sekali menggelar upacara kematian tersebut. Usai disembelih dan dagingnya dibagikan kepada seluruh warga, pihak keluarga pelaksana rambu solo umumnya akan meletakkan tanduk-tanduk kerbau di salah satu pasak atau tiang depan bangunan tongkonan, rumah adat masyarakat Toraja.

Namun, tak semua jenis kerbau bisa diikutsertakan dalam upacara rambu solo. Setidaknya kerbau dengan ciri khas belang, yakni warna kulitnya didominasi putih dan hitam saja, yang bisa disembelih.

Ada 10 jenis kerbau belang yang biasa dilibatkan masyarakat untuk dijadikan hewan persembahan. Kerbau ini pun terbagi kastanya, dari terendah sampai tertinggi. Misalnya untuk kasta terendah adalah tedong bulan atau kerbau albino dan tedong sambao yang berciri dominan putih ditambah sedikit bercak kelabu di tubuhnya. Selanjutnya adalah tedong tekken langi’ atau tongkat langit yaitu kerbau yang tanduknya seolah menusuk ke langit di mana tanduk kiri menjulang ke atas dan tanduk kanan justru mengarah ke bawah.

Lalu ada lagi, tedong sokko atau kerbau dengan tanduk mengarah ke bawah, hampir bertemu di bawah lehernya. Tedong balian lebih unik lagi, karena tanduk di kiri dan kanan memanjang hingga berukuran 2 meter.

Masih ada kerbau bertubuh kekar dan kokoh, biasa dipakai untuk bertarung. Ada tiga jenis, yaitu tedong pudu’ yang berwarna hitam pekat, tedong todi’ berciri bercak putih di dahi atau kepala serta di antara kedua tanduknya. Per ekor jenis-jenis kerbau itu biasanya di kalangan peternak di Toraja dihargai antara Rp40 juta–Rp200 juta.

Tetapi, mereka kalah oleh kasta atas kerbau belang yaitu lotong boko’, tedong bonga, dan tedong saleko. Ketiga jenis mempunyai ciri yang hampir sama, yakni dominan putih dan ada corak hitam di kepala, perut, atau pundak dan sebagian kaki. Harganya di kalangan peternak bisa mencapai Rp400 juta–Rp500 juta per ekornya.

Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan banderol harga tedong saleko yang berciri tanduk warna putih gading, bola mata putih, bagian kepala seluruhnya putih, dan bercak hitam dan putihnya mirip sapi Holestein Friesian. Mau tahu harganya? Bisa di kisaran Rp1 miliar–Rp1,5 miliar seekornya. Biasanya, tedong saleko ini paling dicari oleh keluarga kalangan bangsawan atau kaum berduit Toraja untuk rambu solo.

Pembiakan Buatan

Sejatinya, kerbau belang masuk ke dalam rumpun kerbau rawa Asia (Bubalus bubalis carabanensis) yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia. Hanya saja, untuk jenis kerbau belang, populasinya paling banyak ditemui di Toraja. Kehadiran kerbau belang dan mengapa bisa terbentuk seperti itu sempat menjadi sebuah misteri sebelum akhirnya berhasil dipecahkan oleh tim peneliti gabungan pada awal 2022.

Tim itu berisi pakar peternakan dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran IPB University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ketika masih bernama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Swedish University of Agriculture Sciences dan Uppsala University, keduanya di Swedia. Mereka bekerja sejak 2015.

Menurut Guru Besar Besar Pemuliaan dan Genetika Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor, yang ikut dalam penelitian, seperti dikutip dari IPB Today Volume 715 Tahun 2022, pihaknya berhasil menganalisis mekanisme genetik pemunculan pola belang melalui tes deoxyribonucleic acid (DNA). Hal itu dilakukan setelah tim mengambil contoh sperma dari kerbau yang baru beberapa saat disembelih atas izin dari penyelenggara rambu solo.

Apalagi ada beberapa sifat kerbau belang yang membuatnya sulit untuk berkembang secara alami, salah satunya karena tingkat kematian embrio dan anak kerbau belang yang tinggi selain tingkat kesuburannya yang rendah. “Analisis tes DNA difokuskan pada gen microphthalmia-associated transcription factor (MITF) yang secara umum mengatur kemunculan warna belang (spotted) pada kerbau rawa Asia. Untuk mendeteksi terjadinya mutasi gen, semua ekson MITF serta daerah intron dan pengapitnya diteliti secara seksama,” terang Ronny.

Sedangkan sejawat Ronny dari Swedish University, Göran Andersson, yang sekaligus memimpin penelitian tersebut menjelaskan bahwa munculnya warna putih membuktikan adanya kegagalan dalam perkembangan dan migrasi melanosit. Ini adalah sel yang menghasilkan pigmen melamin.

“Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk melihat gen yang disebut MITF. Yang kami tahu sangat penting untuk perkembangan melanosit,” jelas Andersson seperti dikutip dari website universitas yang berpusat di Uppsala, sekitar 70 kilometer arah utara dari Ibu Kota Stockholm.

Andersson menambahkan, peneliti BRIN bernama Yulnawati Yusnizar yang ikut di dalam penelitian diketahui sudah melakukan penangkaran kerbau belang di Pusat Konservasi dan Pembiakan Kerbau Indonesia di BRIN, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Melalui metode in vitro, dilakukan identifikasi embrio yang nantinya akan berkembang menjadi tedong bonga.

BRIN sendiri ketika masih bernama LIPI pernah melakukan upaya pembiakan kerbau belang jenis tedong bonga pada 2000 silam di Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI di Cibinong. Bibitnya sebanyak empat ekor berasal dari pemberian Pemerintah Provinsi Sulsel pada 1996 kepada Presiden RI Soeharto. Salah satu kerbau betina berhasil tiga kali bunting.

Masa kehamilan pertama terjadi abortus di usia empat bulan karena tidak berkembangnya janin. Kemudian, pada kehamilan kedua, anak kerbau belang lahir prematur di usia bunting induk delapan bulan dari 11 bulan normalnya janin kerbau di kandungan. Anak kerbau berjenis albino itu hanya bisa bertahan hidup beberapa hari dan mati.

Baru pada masa kehamilan ketiga, induk melahirkan anak kerbau jenis tedong saleko berkelamin jantan pada 3 Desember 2000. Saat itu, teknologi yang dikembangkan adalah transfer embrio, yaitu menanam embrio yang dibuat lewat pembuahan buatan di laboratorium, kemudian ditanamkan kepada kerbau lain.

Supaya mendapatkan lebih banyak lagi sel telur, induk betina diinduksi hormon setiap dua bulan. Lewat upaya tersebut, saat itu LIPI meyakini dapat dihasilkan 20–30 anak kerbau belang setiap tahun dengan penyuntikan embrio beku ke rahim induk kerbau betina di Toraja dan di Cibinong.

Maria Wilbe, rekan Andersson dari Uppsala University, menyebutkan bahwa pengungkapan misteri itu akan membantu Indonesia untuk melestarikan kerbau belang seperti tedong bonga dan tedong saleko yang sudah langka di dunia dan hanya ada di Toraja. “Teknologi pengembangan embrio yang memiliki mutasi sangat spesifik ini dapat dipakai untuk meningkatkan populasi kerbau belang sehingga kekayaan fauna Indonesia ini dapat terus dilestasikan,” kata Wilbe.

Semoga saja semua upaya yang melibatkan rekayasa teknologi itu, selain dapat menjaga kelestarian si belang yang bernilai ekonomi tinggi, juga mampu memperbanyak populasinya di bumi Toraja kelak.

Penulis: Anton Setiawan

  • Penulis: Pro Indonesia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peduli Lingkungan, TP PKK Jabar Gelar Lomba Pemanfaatan Limbah Kain Perca

    Peduli Lingkungan, TP PKK Jabar Gelar Lomba Pemanfaatan Limbah Kain Perca

    • calendar_month Rab, 10 Jul 2024
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 113
    • 0Komentar

    KOTA BANDUNG – Penjabat (Pj.) Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Jawa Barat Amanda Soemedi Bey Machmudin mengatakan, lomba pemanfaatan limbah kain perca menjadi komitmen TP PKK Jabar untuk mengurangi sampah rumah tangga dari sektor sandang. “Semakin maraknya penjualan fast fashion mengakibatkan jumlah limbah kain di dunia semakin mengkhawatirkan,” ucap Amanda di Aula Kantor Sekretariat […]

  • Digitalisasi Keuangan, Sulbar Raih TP2DD Terbaik II Wilayah Sulawesi

    Digitalisasi Keuangan, Sulbar Raih TP2DD Terbaik II Wilayah Sulawesi

    • calendar_month Sel, 2 Des 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 111
    • 0Komentar

    MAMUJU- Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Pada ajang Championships Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) Tahun 2025, Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Provinsi Sulbar meraih penghargaan bergengsi dalam Rapat Koordinasi Pusat-Daerah (Rakorpusda) TP2DD 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (1/12/2025). Pada kesempatan tersebut, […]

  • Wujudkan Sulbar Tangguh Bencana, BPBD Sulbar Bantu Mamasa Siapkan Dokumen Kajian Risiko Bencana

    Wujudkan Sulbar Tangguh Bencana, BPBD Sulbar Bantu Mamasa Siapkan Dokumen Kajian Risiko Bencana

    • calendar_month Kam, 11 Sep 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 92
    • 0Komentar

    MAMASA – Dalam rangka menurunkan indeks risiko bencana di Kabupaten Mamasa, Sulbar, digelar rapat awal penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) tahun 2026–2031, yang dibuka langsung Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Mamasa Gusti Harmiawan. Bertempat di Ruang Rapat Kantor BPBD Mamasa, Rabu 10 September 2025. Pada proses penyusunan dokumen ini, BPBD Sulbar melalui Inaldy L.S. Si’lang […]

  • KH Wahyun Mawardi: Amal Usaha Muhammadiyah Harus Dikelola dengan Manajemen Terbaik

    KH Wahyun Mawardi: Amal Usaha Muhammadiyah Harus Dikelola dengan Manajemen Terbaik

    • calendar_month Kam, 17 Okt 2024
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 166
    • 0Komentar

    MAMUJU – Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju) melaksanakan Rapat Kerja untuk Tahun Akademik 2024/2025, dirangkaikan dengan pengajian bulanan. Khusus acara pengajian yang berlangsung di Kampus II Unimaju, Rabu 16 Oktober 2004 dilaksanakan oleh Lembaga Pengkajian dan Penerapan Al Islam Kemuhammadiyahan (LPP-AIK) Unimaju. Pimpinan, Pengelola, Civitas Akademika dan Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju serta ortom muhammadiyah, hadir dalam […]

  • Gubernur Sulbar dan Kapolda Sulbar Matangkan Pengamanan Mudik Idul Fitri 1447 H

    Gubernur Sulbar dan Kapolda Sulbar Matangkan Pengamanan Mudik Idul Fitri 1447 H

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bersama jajaran kepolisian dan instansi terkait menggelar rapat koordinasi lintas sektoral guna membahas kesiapan pengamanan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Rapat koordinasi tersebut berlangsung pada Jumat 6 Maret 2026 pukul 09.00 WITA di Aula Marannu Polda Sulawesi Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi […]

  • Sahur Bersama Keluarga Bi Mar, Ridwan Kamil: Silaturahmi Bawa Kebahagiaan

    Sahur Bersama Keluarga Bi Mar, Ridwan Kamil: Silaturahmi Bawa Kebahagiaan

    • calendar_month Kam, 14 Apr 2022
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 251
    • 0Komentar

    KABUPATEN BOGOR — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melakukan safari ramadan sahur bersama keluarga Bi Mar (64), warga Kampung Cipayung Datar RT 2 RW 3 Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Kamis (14/4/2022). Suasana rintik hujan yang dingin menjadi hangat saat kedatangan Ridwan Kamil ke rumah Bi Mar. Seluruh anggota keluarga seakan merasa bermimpi karena […]

expand_less