Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Melestarikan Kerbau Berharga Miliaran dari Tana Toraja

Melestarikan Kerbau Berharga Miliaran dari Tana Toraja

  • account_circle Pro Indonesia
  • calendar_month Ming, 2 Apr 2023
  • visibility 143
  • comment 0 komentar

Ada 10 jenis kerbau yang berkembang biak di wilayah Tana Toraja, dari yang bernilai jual sekitar Rp50 juta sampai berharga fantastis, yakni di kisaran Rp1 miliar, bahkan lebih.

Kerbau adalah hewan bertanduk yang banyak dipelihara oleh masyarakat dari berbagai suku bangsa di dunia. Demikian pula bagi masyarakat suku Toraja di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, yang menempatkan satwa memamah biak itu sebagai hewan spesial.

Tedong, demikian masyarakat setempat menyebutnya, merupakan lambang status sosial dan komponen penting dalam aktivitas adat. Khususnya, saat diadakan rambu solo atau upacara kematian. Kegiatan itu sudah berlangsung turun-temurun sejak berabad silam di Toraja.

Upacara ini dianut oleh masyarakat Toraja yang masih menjalankan kepercayaan Aluk Tolodo. Setiap keluarga ahli waris akan berupaya sekuat tenaga menghadirkan kerbau sebagai bentuk persembahan kepada kerabat mereka yang wafat.

Semakin banyak kerbau yang disiapkan, maka akan semakin menunjukkan status sosial dari keluarga yang ditinggalkan. Itulah sebabnya, acap dalam setiap upacara rambu solo, jumlah kerbau yang disiapkan untuk disembelih bukan hanya seekor, melainkan mencapai belasan, puluhan, bahkan hingga ratusan ekor.

Menurut Kepala Stasiun RRI Makassar Ferdy Kusno, ketika menjalani ujian disertasi doktor sosiologi di Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, pada 15 Juni 2022, bagi orang Toraja pemotongan kerbau saat rambu solo bukan semata terkait pada ritual atau status sosial. “Ini lebih sebagai harga diri dan bentuk bakti dan cinta keluarga yang ditinggalkan kepada yang meninggal. Kerbau di dalam kepercayaan Aluk Tolodo dipercaya sebagai wahana si arwah untuk mencapai nirwana,” kata Ferdy, dalam disertasinya seperti dikutip dari website UMM.

Bisa dibayangkan berapa banyak rupiah yang harus disiapkan sekali menggelar upacara kematian tersebut. Usai disembelih dan dagingnya dibagikan kepada seluruh warga, pihak keluarga pelaksana rambu solo umumnya akan meletakkan tanduk-tanduk kerbau di salah satu pasak atau tiang depan bangunan tongkonan, rumah adat masyarakat Toraja.

Namun, tak semua jenis kerbau bisa diikutsertakan dalam upacara rambu solo. Setidaknya kerbau dengan ciri khas belang, yakni warna kulitnya didominasi putih dan hitam saja, yang bisa disembelih.

Ada 10 jenis kerbau belang yang biasa dilibatkan masyarakat untuk dijadikan hewan persembahan. Kerbau ini pun terbagi kastanya, dari terendah sampai tertinggi. Misalnya untuk kasta terendah adalah tedong bulan atau kerbau albino dan tedong sambao yang berciri dominan putih ditambah sedikit bercak kelabu di tubuhnya. Selanjutnya adalah tedong tekken langi’ atau tongkat langit yaitu kerbau yang tanduknya seolah menusuk ke langit di mana tanduk kiri menjulang ke atas dan tanduk kanan justru mengarah ke bawah.

Lalu ada lagi, tedong sokko atau kerbau dengan tanduk mengarah ke bawah, hampir bertemu di bawah lehernya. Tedong balian lebih unik lagi, karena tanduk di kiri dan kanan memanjang hingga berukuran 2 meter.

Masih ada kerbau bertubuh kekar dan kokoh, biasa dipakai untuk bertarung. Ada tiga jenis, yaitu tedong pudu’ yang berwarna hitam pekat, tedong todi’ berciri bercak putih di dahi atau kepala serta di antara kedua tanduknya. Per ekor jenis-jenis kerbau itu biasanya di kalangan peternak di Toraja dihargai antara Rp40 juta–Rp200 juta.

Tetapi, mereka kalah oleh kasta atas kerbau belang yaitu lotong boko’, tedong bonga, dan tedong saleko. Ketiga jenis mempunyai ciri yang hampir sama, yakni dominan putih dan ada corak hitam di kepala, perut, atau pundak dan sebagian kaki. Harganya di kalangan peternak bisa mencapai Rp400 juta–Rp500 juta per ekornya.

Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan banderol harga tedong saleko yang berciri tanduk warna putih gading, bola mata putih, bagian kepala seluruhnya putih, dan bercak hitam dan putihnya mirip sapi Holestein Friesian. Mau tahu harganya? Bisa di kisaran Rp1 miliar–Rp1,5 miliar seekornya. Biasanya, tedong saleko ini paling dicari oleh keluarga kalangan bangsawan atau kaum berduit Toraja untuk rambu solo.

Pembiakan Buatan

Sejatinya, kerbau belang masuk ke dalam rumpun kerbau rawa Asia (Bubalus bubalis carabanensis) yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia. Hanya saja, untuk jenis kerbau belang, populasinya paling banyak ditemui di Toraja. Kehadiran kerbau belang dan mengapa bisa terbentuk seperti itu sempat menjadi sebuah misteri sebelum akhirnya berhasil dipecahkan oleh tim peneliti gabungan pada awal 2022.

Tim itu berisi pakar peternakan dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran IPB University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ketika masih bernama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Swedish University of Agriculture Sciences dan Uppsala University, keduanya di Swedia. Mereka bekerja sejak 2015.

Menurut Guru Besar Besar Pemuliaan dan Genetika Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor, yang ikut dalam penelitian, seperti dikutip dari IPB Today Volume 715 Tahun 2022, pihaknya berhasil menganalisis mekanisme genetik pemunculan pola belang melalui tes deoxyribonucleic acid (DNA). Hal itu dilakukan setelah tim mengambil contoh sperma dari kerbau yang baru beberapa saat disembelih atas izin dari penyelenggara rambu solo.

Apalagi ada beberapa sifat kerbau belang yang membuatnya sulit untuk berkembang secara alami, salah satunya karena tingkat kematian embrio dan anak kerbau belang yang tinggi selain tingkat kesuburannya yang rendah. “Analisis tes DNA difokuskan pada gen microphthalmia-associated transcription factor (MITF) yang secara umum mengatur kemunculan warna belang (spotted) pada kerbau rawa Asia. Untuk mendeteksi terjadinya mutasi gen, semua ekson MITF serta daerah intron dan pengapitnya diteliti secara seksama,” terang Ronny.

Sedangkan sejawat Ronny dari Swedish University, Göran Andersson, yang sekaligus memimpin penelitian tersebut menjelaskan bahwa munculnya warna putih membuktikan adanya kegagalan dalam perkembangan dan migrasi melanosit. Ini adalah sel yang menghasilkan pigmen melamin.

“Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk melihat gen yang disebut MITF. Yang kami tahu sangat penting untuk perkembangan melanosit,” jelas Andersson seperti dikutip dari website universitas yang berpusat di Uppsala, sekitar 70 kilometer arah utara dari Ibu Kota Stockholm.

Andersson menambahkan, peneliti BRIN bernama Yulnawati Yusnizar yang ikut di dalam penelitian diketahui sudah melakukan penangkaran kerbau belang di Pusat Konservasi dan Pembiakan Kerbau Indonesia di BRIN, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Melalui metode in vitro, dilakukan identifikasi embrio yang nantinya akan berkembang menjadi tedong bonga.

BRIN sendiri ketika masih bernama LIPI pernah melakukan upaya pembiakan kerbau belang jenis tedong bonga pada 2000 silam di Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI di Cibinong. Bibitnya sebanyak empat ekor berasal dari pemberian Pemerintah Provinsi Sulsel pada 1996 kepada Presiden RI Soeharto. Salah satu kerbau betina berhasil tiga kali bunting.

Masa kehamilan pertama terjadi abortus di usia empat bulan karena tidak berkembangnya janin. Kemudian, pada kehamilan kedua, anak kerbau belang lahir prematur di usia bunting induk delapan bulan dari 11 bulan normalnya janin kerbau di kandungan. Anak kerbau berjenis albino itu hanya bisa bertahan hidup beberapa hari dan mati.

Baru pada masa kehamilan ketiga, induk melahirkan anak kerbau jenis tedong saleko berkelamin jantan pada 3 Desember 2000. Saat itu, teknologi yang dikembangkan adalah transfer embrio, yaitu menanam embrio yang dibuat lewat pembuahan buatan di laboratorium, kemudian ditanamkan kepada kerbau lain.

Supaya mendapatkan lebih banyak lagi sel telur, induk betina diinduksi hormon setiap dua bulan. Lewat upaya tersebut, saat itu LIPI meyakini dapat dihasilkan 20–30 anak kerbau belang setiap tahun dengan penyuntikan embrio beku ke rahim induk kerbau betina di Toraja dan di Cibinong.

Maria Wilbe, rekan Andersson dari Uppsala University, menyebutkan bahwa pengungkapan misteri itu akan membantu Indonesia untuk melestarikan kerbau belang seperti tedong bonga dan tedong saleko yang sudah langka di dunia dan hanya ada di Toraja. “Teknologi pengembangan embrio yang memiliki mutasi sangat spesifik ini dapat dipakai untuk meningkatkan populasi kerbau belang sehingga kekayaan fauna Indonesia ini dapat terus dilestasikan,” kata Wilbe.

Semoga saja semua upaya yang melibatkan rekayasa teknologi itu, selain dapat menjaga kelestarian si belang yang bernilai ekonomi tinggi, juga mampu memperbanyak populasinya di bumi Toraja kelak.

Penulis: Anton Setiawan

  • Penulis: Pro Indonesia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Subuh Berjamaah, Ridwan Kamil Minta DKM Jaga Masjid “Musafir”

    Subuh Berjamaah, Ridwan Kamil Minta DKM Jaga Masjid “Musafir”

    • calendar_month Kam, 14 Apr 2022
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 273
    • 0Komentar

    KABUPATEN BOGOR — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berpesan kepada pengurus DKM agar menjaga masjid Jami Hidayatullah Syarief di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Bukan hanya aktivitas dakwah tapi juga memelihara kebersihan dan kenyamanan. Masjid ini diketahui berada di jalur arteri menuju kawasan wisata Puncak yang kerap disinggahi orang yang sedang dalam perjalanan baik untuk silaturahmi, […]

  • Kominfo Sulbar Berbagi Pakai Aplikasi Fleksi dengan Mamuju Tengah

    Kominfo Sulbar Berbagi Pakai Aplikasi Fleksi dengan Mamuju Tengah

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 98
    • 0Komentar

    MAMUJU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik menjalin Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah terkait replikasi Aplikasi Fleksi (Flexible Working Arrangement/WFA). Penandatanganan PKS dilakukan oleh Kepala Dinas Kominfo Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar, dan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kabupaten Mamuju Tengah, Hajai, serta disaksikan […]

  • Rektor Unhas Lantik 28 Pejabat Baru dan Dosen Lulusan S3

    Rektor Unhas Lantik 28 Pejabat Baru dan Dosen Lulusan S3

    • calendar_month Sab, 29 Mar 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menggelar Upacara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan dan Penerimaan Dosen Lulusan Program Doktor (S3) dalam Lingkup Unhas pada Kamis, (27/03). Upacara yang berlangsung di Lantai Dasar Gedung Rektorat ini terdapat 28 pejabat baru yang dilantik langsung oleh Rektor Unhas, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc. Selain itu, dua orang dosen lulusan […]

  • Ridwan Kamil Apresiasi Kemajuan di Bidang Pertanian

    Ridwan Kamil Apresiasi Kemajuan di Bidang Pertanian

    • calendar_month Sen, 12 Jun 2023
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 131
    • 0Komentar

    KABUPATEN CIAMIS — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menghadiri Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka Hari Jadi ke-381 Kabupaten Ciamis di Aula DPRD Kabupaten Ciamis, Senin (12/6/2023). Dalam rapat tersebut, Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– mengapresiasi kemajuan dan capaian Kabupaten Ciamis di bidang pertanian. Menurutnya, Tanda Penghormatan Satyalancana Wira Karya Bidang Pembangunan Pertanian yang diraih Bupati […]

  • SDK Tolak Impor Dua Juta Ton Beras untuk Pemenuhan CBP

    SDK Tolak Impor Dua Juta Ton Beras untuk Pemenuhan CBP

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 135
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Suhardi Duka (SDK) menyatakan penolakannya terhadap kebijakan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang memberikan penugasan kepada Perum Bulog untuk melakukan importasi beras sejumlah dua juta ton dalam rangka pemenuhan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Menurutnya, saat ini neraca komoditas beras masih surplus. Juga, alasan impor beras karena Bulog tidak dapat […]

  • Bey Machmudin Saksikan Penyampaian LHP LKPP 2023 dari BPK ke Presiden RI

    Bey Machmudin Saksikan Penyampaian LHP LKPP 2023 dari BPK ke Presiden RI

    • calendar_month Sen, 8 Jul 2024
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 114
    • 0Komentar

    DKI JAKARTA — Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin menyaksikan penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2023 dan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II tahun 2023. Dengan tema ‘Menguatkan Fondasi Keuangan Negara, Menuju Indonesia Emas 2045’, penyampaian LHP dihadiri Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin berlangsung di […]

expand_less