Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NASIONAL » Korea Punya Ginseng, Indonesia Punya Kelor

Korea Punya Ginseng, Indonesia Punya Kelor

  • account_circle Pro Indonesia
  • calendar_month Ming, 9 Apr 2023
  • visibility 73
  • comment 0 komentar

Selain mengandung kalsium dan protein, kelor juga mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antibakteri, antioksidan, antifungi, antiinflamasi, antikanker, antiobesitas, dan antikolesterol.

Tanaman kelor yang bernama latin Moringa oleifera Lam mendadak menjadi primadona di kala pandemi. Tanaman berdaun mini itu banyak diburu masyarakat.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah provinsi pun mencanangkan gerakan menaman kelor dan mewajibkan masyarakat mengonsumsi. Menyusul, adanya pengetahuan baru bahwa khasiat tanaman itu bagus untuk ibu hamil dan menyusui. Di sana, kelor juga diberikan kepada anak-anak usia sekolah.

Mengingat khasiat daun kelor bagi kesehatan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun meminta agar kelor bisa diteliti secara mendalam. Menkes ingin tanaman kelor menjadi obat tradisional khas Indonesia yang bisa menembus pasar global dan menyaingi ginseng khas Korea Selatan.

“Saya pengin mengimbangi seperti ginsengnya Korea, dibikin penelitian yang serius untuk masuk dunia internasional,” katanya seperti dikutip dari laman Sehat Negeriku Kemenkes, Senin (6/2/2023).

Tak hanya sebagai obat-obatan herbal, kelor yang cukup populer di NTT ini juga memiliki potensi untuk menjadi salah satu sumber pangan alternatif. Khususnya untuk pemberantasan masalah kelaparan di daerah terpencil di NTT. Terlebih diketahui kelor memang kaya akan nutrisi.

“Jadi kita akan menjadikan kelor sebagai salah satu makanan tradisional dan herbal Indonesia, kita akan riset secara formal. Kita dukung risetnya supaya bisa diterima di kalangan internasional,” tukas Menkes.

Lantas seajaib apa kelor, hingga dijuluki sebagai ‘the miracle tree’ oleh World Healthy Organization (WHO)? Apa pula yang membuat pemerintah menaruh harap kelor dapat bersaing dengan ginseng Korea? Untuk membuktikan hal tersebut, Peneliti Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ridwan pun mengungkap sejumlah fakta.

Menurut dia, pohon kelor yang tergolong ke dalam genus Moringaceae diyakini berasal dari kaki bukit Himalaya, meliputi Pakistan, India, Nepal, dan Bangladesh. Kini, tanaman tersebut tersebar luas dan banyak dibudidayakan terutama di wilayah tropis.

Selain diolah sebagai bahan pangan, kelor juga dapat diolah sebagai campuran herbal. Kandungan vitamin dan mineral dalam kelor terbukti mencukupi gizi harian yang dibutuhkan oleh tubuh. Bahkan, kandungan kalsiumnya pun melebihi susu hewani.

“Kandungan kalsium kelor lebih tinggi dibanding tanaman lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan susu sapi sekalipun. Padahal selama ini susu sapi dikenal sebagai sumber utama kalsium bagi manusia,” ujar Ridwan, seperti dilansir dari laman BRIN, Kamis (9/3/2023).

Berdasarkan beberapa literatur, Ridwan yang merupakan doktor lulusan Institut Pertanian Bogor itu juga mengungkapkan, susu sapi rata-rata mengandung 143mg/100 gr kalsium, sedangkan kandungan kalsium daun kelor kering dapat mencapai 17 kali lipatnya. Ridwan pernah menganalisis dan membandingkan kandungan kalsium daun kelor dari beberapa daerah di Indonesia. Hasilnya ada yang mencapai hingga 21 kali lipat, yaitu mencapai 3.000mg/100gr.

Khasiat tinggi yang dimiliki kelor membuat Pemprov NTT mewajibkan masyarakatnya mengonsumsi kelor, khususnya bagi ibu hamil dan menyusui. Tanaman itu juga memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, sekitar 25%–34%, setara dengan kandungan protein pada kacang-kacangan. Kendati, belum melampaui kandungan protein pada biji kedelai yang mencapai 36 persen.

Kandungan Senyawa Bioaktif  

Pada beberapa publikasinya, Ridwan menuturkan, beberapa tahun terakhir, pemanfaatan tanaman kelor meningkat secara signifikan. Baik sebagai bahan makanan, obat-obatan, maupun untuk kosmetika. Kemungkinan, kata dia, hal itu disebabkan oleh bertambahnya pengetahuan kandungan gizi dan potensi farmasi kelor.

Selain mengandung kalsium dan protein, kelor juga mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antibakteri, antioksidan, antifungi, antiinflamasi, antikanker, antiobesitas, dan antikolesterol. Tak hanya itu, senyawa metabolit sekunder memiliki beberapa fungsi lain, di antaranya sebagai atraktan (menarik serangga penyerbuk), pelindung dari stres lingkungan, pelindung dari serangan hama atau penyakit (phytoaleksin), pelindung terhadap sinar ultra violet, dan sebagai zat pengatur tumbuh.

Flavonoid merupakan salah satu senyawa polifenol yang baru-baru ini telah banyak dipelajari dan digunakan dalam bidang kesehatan.

Metode Budi Daya Kelor

Jika ingin membudidayakan kelor, jangan khawatir, karena pembudidayaannya sangat mudah. Memperbanyaknya dapat dilakukan secara vegetatif dengan stek batang dan generatif dengan biji. Baik dengan stek batang dan biji masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Memperbanyak dengan stek batang dapat menghasilkan daun dan buah yang lebih cepat. Namun, dalam usaha budi daya intensif dan luas, pemenuhan kebutuhan batang sebagai bahan stek akan menjadi masalah.

Pasalnya, batang yang digunakan untuk stek dengan probabilitas keberhasilan tinggi harus memenuhi beberapa kriteria. Yakni, batang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, panjang 1 meter, dan diameter 5–10 cm.

Kelemahannya, akar yang terbentuk melalui metode stek tidak terlalu kuat sehingga lebih mudah roboh. Berbeda dengan metode perbanyakan dengan biji yang lebih aplikatif untuk budi daya intensif, karena viabilitas metode biji cukup tinggi. Akar yang akan terbentuk kuat, tidak mudah roboh, dan penanaman lebih mudah.

Untuk masa panen daun juga relatif cepat (mulai 3–4 bulan setelah tanam). Namun, untuk produksi buah membutuhkan waktu cukup lama, yaitu sekitar 1,5-2 tahun, tergantung kondisi lingkungan tumbuhnya.

Perawatan tanaman kelor sebenarnya tidak terlalu susah. Pengairan secukupnya dan jangan sampai tergenang. Jika kelebihan air tanaman kelor sangat rentan terkena penyakit busuk akar. Di Indonesia, distribusi kelor hampir tersebar di seluruh pulau dan memiliki potensi lain yaitu untuk memperoleh variabilitas genotipe unggul dengan produksi biomassa daun dan kandungan flavonoid yang tinggi.

“Saya bersama tim pernah melakukan uji coba penanaman kelor di sepuluh pulau di Indonesia yaitu Sumatra, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua dalam polibag berkapasitas 10 kg,” jelas Ridwan.

Hasilnya, peneliti BRIN menemukan, Sumatra merupakan aksesi yang memiliki daun tertinggi dengan produksi biomassa yang dikombinasikan dengan kandungan total flavonoid dan aktivitas antioksidan yang paling tinggi, dibandingkan dengan yang lain.  “Aksesi Sumatra direkomendasikan sebagai aksesi yang sangat baik untuk budi daya dengan tujuan menghasilkan flavonoid,” terang Ridwan.

Dengan demikian, sederet bukti telah menunjukkan jika kelor merupakan tanaman ajaib dan mampu bersaing dengan ginseng yang telah mendunia. Gerakan mengkonsumsi kelor kiranya perlu didukung, karena dapat menjadi alternatif upaya swasembada pangan secara mandiri.

Penulis: Kristantyo Wisnubroto

  • Penulis: Pro Indonesia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gamagora 7, Varietas Padi Baru Tahan Hama

    Gamagora 7, Varietas Padi Baru Tahan Hama

    • calendar_month Sel, 25 Apr 2023
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Varietas padi unggul gamagora 7 dilepas ke publik. Varietas ini cocok ditanam pada lahan sawah maupun tadah hujan. Hasil panen 7,95 ton per hektare dengan umur sekitar 119 hari setelah semai. Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi melepas varietas padi unggul inbrida G7 dengan nama gamagora 7 ke publik. Pelepasan dilakukan setelah varietas itu mengantongi surat […]

  • Manfaat Besar Program MBG: Tingkatkan Imunitas, Cegah TBC

    Manfaat Besar Program MBG: Tingkatkan Imunitas, Cegah TBC

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 104
    • 0Komentar

    JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan generasi muda, sehingga lebih terlindungi dari risiko penyakit menular seperti TBC. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa upaya menuntaskan tuberkulosis (TBC) tidak hanya dilakukan melalui pengobatan, tetapi juga pencegahan sejak dini melalui penguatan gizi masyarakat. Program Makan […]

  • Antisipasi Hepatitis Akut di Jabar, Ridwan Kamil: Jangan Panik, Negara Siap Atasi

    Antisipasi Hepatitis Akut di Jabar, Ridwan Kamil: Jangan Panik, Negara Siap Atasi

    • calendar_month Sen, 9 Mei 2022
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 154
    • 0Komentar

    KOTA BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memantau beberapa ruangan termasuk laboratorium Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung guna mengantisipasi fenomena hepatitis akut yang saat ini belum ditemukan di Jabar. ”Saya laporkan di Jawa Barat belum ada (hepatitis akut), dan mudah-mudahan tidak ada.  Masyarakat diimbau yang pertama jangan panik. Seperti biasa kita sudah […]

  • Aksi Sosial Gubernur Sulbar: Sasar Ojek dan Penjual Sayur di Mamasa

    Aksi Sosial Gubernur Sulbar: Sasar Ojek dan Penjual Sayur di Mamasa

    • calendar_month Sel, 30 Des 2025
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 42
    • 0Komentar

    MAMASA – Gubernur Sulbar Suhardi Duka, menyerahkan secara simbolis bingkisan Natal kepada komunitas penjual sayur dan komunitas ojek di Kabupaten Mamasa, sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan dalam perayaan Natal yang diadakan GMKI. Berlangsung di lapangan Kabupaten Mamasa, Senin malam, 29 Desember 2025. Secara keseluruhan, sebanyak kurang lebih 700 paket bingkisan Natal telah disiapkan untuk dibagikan […]

  • Atas Permintaan Gubernur Sulbar, 14 Perusahaan Sawit di Sulbar Ambil Peran Tangani Stunting dan Kemiskinan Ekstrem

    Atas Permintaan Gubernur Sulbar, 14 Perusahaan Sawit di Sulbar Ambil Peran Tangani Stunting dan Kemiskinan Ekstrem

    • calendar_month Sab, 13 Sep 2025
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 64
    • 0Komentar

    MAMUJU – Di tengah keterbatasan anggaran, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mendapat angin segar dalam upaya menangani stunting dan kemiskinan ekstrem. Atas permintaan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, sebanyak 14 perusahaan sawit yang beroperasi di tiga kabupaten: Mamuju, Mamuju Tengan dan Pasangkayu menyatakan siap terlibat langsung dalam program Penanganan dan Pencegahan Stunting dan Miskin Ekstrem Terpadu (Pastipadu) […]

  • DPMPTSP Sulbar Kuatkan Ekosistem Wirausaha Muda dan Investasi Daerah

    DPMPTSP Sulbar Kuatkan Ekosistem Wirausaha Muda dan Investasi Daerah

    • calendar_month Sel, 18 Nov 2025
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 55
    • 0Komentar

    MAMUJU — Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Habibi Azis, menghadiri sekaligus menjadi narasumber pada kegiatan Forum Bisnis Daerah (FORBISDA) BPD HIPMI Sulbar di Atrium Mall Maleo Town Square Mamuju, Minggu 16 November 2025. Dalam diskusi tersebut, Habibi Azis membawakan materi bertajuk “Perspektif Ekonomi Makro dan Kebijakan […]

expand_less