Suhardi Duka: Puasa Adalah Momentum Menahan Diri dan Hidup Sederhana
- account_circle PROINDONESIA
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar

MAMAJU – Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, menunaikan salat tarawih perdana di Masjid Suada Mamuju, Rabu 18 Februari 2026 malam.
Ia hadir mengenakan baju putih, didampingi Sekretaris Provinsi Sulbar Junda Maulana dan sejumlah pimpinan OPD, berada di saf depan bersama jemaah lain.
Suhardi Duka mengajak warga menyambut Ramadan dengan harapan, kegembiraan, dan optimisme.
Menurutnya, bulan puasa menjadi momentum tepat untuk memperbaiki diri.
Ia mengingatkan, bagi yang masih diberi kesempatan bertemu Ramadan tahun ini, patut bersyukur.
Sebab tak sedikit saudara atau kerabat yang tahun lalu masih bisa menunaikan salat tarawih bersama, kini telah dipanggil sang pencipta.
Gubernur Suhardi Duka lalu mengenang almarhum Wakil Gubernur Sulbar Salim S Mengga, yang tahun lalu masih salat tarawih bersama.
“Itulah siklus kehidupan, ada yang hidup pasti ada yang mati. Kalau hari ini kita yang hidup, perbaikilah kehidupan kita ini,” ucap Suhardi Duka.
Di atas mimbar, ia mengajak jemaah memanfaatkan Ramadan untuk memperbanyak amal dan tetap hidup sederhana meski berada di jabatan yang tinggi.
“Dan sekarang yang ada di bawah jangan pesimis, mungkin hari ini masih di bawah tapi besok atau lusa kamu akan menjadi yang di atas,” jelasnya.
Suhardi menambahkan, Ramadan juga menjadi momen untuk memperbaiki lingkungan dan hubungan dengan sesama.
“Kalau hari ini mungkin anda kuat bantu yang lemah, kalau hari ini lemah, support yang kuat agar terus terjadi siklus keseimbangan dalam kehidupan kita dimanapun kita berada,” tuturnya.
Suhardi mengatakan, bulan puasa mengajarkan cara melawan hawa nafsu dan mengendalikan dorongan-dorongan hedonisme.
Ia menyebut, rasa kebersamaan menjadi kunci kemajuan daerah.
Sulbar, menurutnya, dalam 10 tahun terakhir mengalami kemajuan, termasuk berkurangnya pengangguran.
Di kesempatan yang sama, Suhardi mengingatkan warga untuk selalu bersedekah selama Ramadan. “Bukan nilainya tapi nawaitunya,” pungkasnya. (Rls)
- Penulis: PROINDONESIA

Saat ini belum ada komentar