Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Talempong dan Harmonisasi Pentatonik Musik Minang

Talempong dan Harmonisasi Pentatonik Musik Minang

  • account_circle Pro Indonesia
  • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
  • visibility 23
  • comment 0 komentar

Talempong, warisan budaya takbenda nasional dari Sumatra Barat sudah ada sejak abad 13 dan dimainkan dengan dua teknik, yakni “dipacik” (dipegang) dan dijajarkan dalam wadah kayu.

Indonesia adalah negara pemilik 17 ribu pulau dengan populasi, menurut Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, per Juni 2022 sebanyak 275,36 juta jiwa dan terbagi ke dalam 1.340 suku dan etnis. Mereka kemudian melakukan aneka kegiatan kemasyarakatan dalam berbagai bentuk yang menciptakan produk seni dan budaya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sampai dengan 22 November 2022 menyebut, dari sekitar 11.622 produk seni dan budaya yang tercatat, ada 1.728 di antaranya telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda nasional. Bentuknya bermacam-macam, seperti seni pertunjukan, kerajinan tradisional, tradisi lisan, kuliner dan lain sebagainya.

Salah satu warisan budaya takbenda nasional itu adalah talempong, berupa alat musik pukul berbahan logam dari Sumatra Barat. Menurut profesor emeritus bidang etnomusikologi dari Monash University, Australia, Margaret Joy Kartomi, talempong diperkirakan sudah masuk ke Minangkabau pada abad ke-13, bersamaan mulai berkembangnya Islam di Ranah Minang.

Dalam laporan penelitiannya berjudul Musical Strata in Sumatera, Java, and Bali yang ia lakukan pada 1998, kesenian talempong bersama gong diperkirakan dibawa masuk ke Nusantara oleh para perajin perunggu asal Tonkin, di utara Vietnam. Suara dari alat musik pukul yang disebut Kartomi telah memikat hati pemimpin Kerajaan Pagaruyung, Raja Adityawarman, dan hanya dimainkan untuk menyambut tamu kerajaaan. Dalam perjalanannya, seni talempong kemudian menjadi simbol, prestise, dan kebesaran dari raja-raja Kerajaan Pagaruyung.

Alat musik talempong terbuat dari campuran tembaga, timah putih dan besi putih berbentuk silinder. Diameternya 17–18 sentimeter dan tinggi 8,5–9 cm dengan ukuran bagian atas dan bawahnya tidak sama. Ada semacam benjolan atau pencu pada bagian atas alat musik ini dan bagian bawahnya berlubang atau berongga. Ketebalan logam talempong berkisar 3–4 milimeter.

Sepintas, talempong menyerupai aguang (gong besar) atau bonang yaitu gong kecil pada pertunjukan gamelan. Cara memainkannya pun sama, yakni dipukul memakai tongkat kayu kecil (stick). Kualitas suara yang dihasilkan oleh talempong akan bergantung kepada unsur logam pembentuknya. Semakin banyak kandungan tembaga pada logam alat musik talempong, maka suaranya pun akan semakin baik.

Melansir website Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, talempong telah menyatu dalam kehidupan masyarakat adat di Minangkabau dan dimainkan saat acara-acara khusus. Umumnya talempong dimainkan bersama alat musik tradisional Minang lainnya, seperti gendang, saluang, dan sarunai.

Talempong juga kerap dijadikan panduan tempo dari musik yang sedang dimainkan. Sehingga, talempong seperti garam dalam masakan, tak lengkap sebuah pertunjukan tari atau acara-acara adat digelar tanpa kehadiran alat musik ini.

Talempong Pacik

Ada dua cara memainkan talempong, yaitu dengan teknik tradisional (interlocking) dan teknik modern. Kedua teknik itu menghasilkan nada-nada pentatonik, ciri khas alat musik tradisional.

Pada teknik tradisional, talempong dimainkan oleh tiga orang dan masing-masing memainkan dua talempong. Caranya, dipegang dengan tangan kiri secara vertikal, atas dan bawah. Yang atas dijepit ibu jari dan telunjuk, sedangkan yang bawah digantungkan pada jari tengah, manis dan kelingking. Jari telunjuk menjadi pemisah antara kedua talempong, membuat suara talempong nyaring.

Pada teknik pertama itu, tangan kanan berfungsi memegang dan memukulkan stick ke perangkat talempong. Cara memainkan seperti ini dikenal sebagai teknik dipacik atau dipegang. Masyarakat di Sumbar memahaminya dengan talempong pacik. Ada tiga jenis talempong pacik berdasarkan kategori suara yang dihasilkan. Yakni, talempong jantan, talempong batino (betina), dan talempong pengawin.

Menurut website Warisan Budaya Takbenda Nasional, talempong jantan bertugas menggabungkan nada paling rendah dan paling tinggi untuk menciptakan sebuah nada utuh. Begitu pun halnya talempong betina, yang memainkan nada berubah-ubah bergantung kebutuhan tangga lagu saat dimainkan, misalnya nada kedua dan nada empat atau nada tiga dengan nada lima.

Talempong pengawin atau disebut juga paningkah adalah sebagai penyambung atau pengait dari nada talempong jantan dan talempong betina. Melodi talempong paningkah ini harus mampu menyambungkan harmonisasi nada yang dihasilkan talempong jantan kepada talempong betina atau sebaliknya. Itulah yang disebut sebagai interlocking atau saling meningkahi agar nada yang dimainkan tidak bertabrakan.

Talempong seperti ini kerap disertakan ketika ada arak-arakan atau mengiringi penyambutan tamu adat dan para pemainnya juga ikut berjalan di dalam arak-arakan itu sambil menjepit talempong di jari mereka. Para pemain talempong ini acap larut dalam dinamisnya harmonisasi nada yang dihasilkan dan raut wajah mereka lebih banyak ceria.

Uniknya, satu buah alat talempong beratnya bisa mencapai 1 kilogram. Padahal, alat itu selalu mereka jepit di tangan selama pertunjukan yang berlangsung dalam durasi paling sedikit 10 menit. Umumnya pemain talempong pacik sudah berumur di atas 40 tahun. Seni ini relatif jarang diminati anak muda karena cara memainkannya yang terbilang tidak biasa.

 

Talempong Modern

Sedangkan teknik modern cenderung lebih meringankan tugas si pemainnya karena talempong sudah tidak perlu lagi dipacik. Sebab, talempong sudah ditempatkan pada sebuah wadah kayu persegi panjang yang di dalamnya terdapat bilik-bilik khusus yang dinamai rancakan sebagai rel atau rea. Fungsinya sebagai dudukan 8–20 unit talempong yang disusun berjajar dua baris dan diurutkan berdasarkan alur tinggi-rendah nada pentatonik yang akan dimainkan.

Supaya talempong-talempong ini tetap kokoh pada dudukan rancakan atau tidak terjatuh dari wadah, maka diberi penguat berupa tali atau kawat baja yang diikatkan pada tiap talempong dan disambungkan ke dinding bilik atau wadah kayu. Menurut Asri MK, Dosen Seni Karawitan Institut Seni Indonesia Padang Panjang, dalam Pembelajaran Musik Talempong Unggan Berbasis Literatur, bermain talempong jenis ini memudahkan para pemainnya.

Asri menilai, si pemain akan lebih mudah menggerakkan tangan untuk memukul tiap talempong yang tersusun dalam rancakan kendati saat memainkannya, tangan harus bersiaga bersama alat pemukul dengan jarak sekitar 10 cm di atas pencu. “Kedua tangan dapat bergerak dinamis memainkan melodi nada-nada yang muncul dari pukulan talempong. Kelenturan lengan dalam memukul talempong menjadi kata kunci. Karena tempo talempong jenis ini dua kali lebih cepat dari talempong jenis lain,” ujarnya.

Talempong seperti ini dikenal juga sebagai talempong unggan, diambil dari nama sebuah jorong di Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, dan biasanya dimainkan sambil duduk. Anak-anak muda Minang sudah banyak yang bisa memainkan talempong jenis ini dan di sejumlah daerah dijadikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Kita dapat menjumpainya saat acara-acara seperti pesta pernikahan (baralek gadang), pertunjukan silat, atau ketika mengiringi Tari Gelombang.

Komposer muda Sumbar bernama Agung Perdana, dalam sebuah diskusi mengenai pelestarian budaya Minangkabau yang diadakan di Padang beberapa waktu lalu, mengungkapkan bahwa talempong dapat dikawinkan permainannya bersama berbagai jenis musik lainnya, seperti jazz, pop, blues, atau bahkan rock sekalipun. Ia telah membuktikannya dengan tampil di 12 negara dan melakukan jam session dengan grup musik setempat dalam berbagai warna musik.

Penulis: Anton Setiawan

  • Penulis: Pro Indonesia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Kesaktian Pancasila, Salim Mengga Ajak Masyarakat Jaga Persaudaraan

    Hari Kesaktian Pancasila, Salim Mengga Ajak Masyarakat Jaga Persaudaraan

    • calendar_month Kam, 2 Okt 2025
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 15
    • 0Komentar

    MAMUJU – Wakil Gubernur Sulawesi Barat Salim S Mengga menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober 2025. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai pengingat pentingnya menjaga persatuan dan kesetiaan terhadap ideologi bangsa. Rabu 1 Oktober 2025. Menurut pasangan Gubernur Sulbar Suhardi Duka ini, Pancasila bukan hanya dasar […]

  • Hari Kedua Ramadan, Ridwan Kamil Cek Kondisi Harga Minyak Goreng

    Hari Kedua Ramadan, Ridwan Kamil Cek Kondisi Harga Minyak Goreng

    • calendar_month Sen, 4 Apr 2022
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 146
    • 0Komentar

    KOTA BANDUNG — Memasuki hari kedua Ramadan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengecek kondisi harga minyak goreng di Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Senin (4/4/2022). Kegiatan tersebut inisiatif Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– untuk memastikan harga minyak goreng stabil sekaligus mengantisipasi penimbunan minyak goreng. Menurut Kang Emil, Pemda Provinsi Jabar bergerak cepat guna menyelesaikan […]

  • Komisi III DPRD Sulbar Kunker ke Dinas ESDM Sulsel

    Komisi III DPRD Sulbar Kunker ke Dinas ESDM Sulsel

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2025
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 18
    • 0Komentar

    MAKASSAR – Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Wisnu Hasta Praja, mendampingi rombongan Komisi III DPRD Sulbar dalam kunjungan kerja (kunker) ke Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Kamis, 27 Februari 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memperjelas implementasi perizinan air tanah yang telah […]

  • Pertengahan Agustus 2025, 100 Sekolah Rakyat Beroperasi

    Pertengahan Agustus 2025, 100 Sekolah Rakyat Beroperasi

    • calendar_month Sen, 4 Agu 2025
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 10
    • 0Komentar

    PONOROGO – Tiga titik akan mulai beroperasi pada 1 Agustus yakni di Kabupaten Lebak, Kabupaten Ponorogo, dan Kota Pasuruan, disusul lima titik lagi pada 5 Agustus dan 29 titik sisanya akan aktif pada 15 Agustus. Kementerian Sosial (Kemensos) menyatakan, sejumlah 100 titik Sekolah Rakyat tahap pertama di berbagai daerah siap beroperasi secara penuh pada pertengahan […]

  • Antisipasi Serangan Siber, Pemda Provinsi Jabar Perkuat Kapasitas SDM dan Infrastruktur

    Antisipasi Serangan Siber, Pemda Provinsi Jabar Perkuat Kapasitas SDM dan Infrastruktur

    • calendar_month Sel, 2 Jul 2024
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KOTA BANDUNG – Pemda Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jabar intens memperkuat kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur guna mencegah serangan siber. Kepala Diskominfo Jabar Ika Mardiah menuturkan, pihaknya secara kontinu melakukan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas SDM. Selain itu, Diskominfo Jabar juga intens berkomunikasi dan berkoordinasi dengan […]

  • Ridwan Kamil Paparkan Visi Jabar Masa Depan Berkelanjutan dalam Forum Dunia di Los Angeles

    Ridwan Kamil Paparkan Visi Jabar Masa Depan Berkelanjutan dalam Forum Dunia di Los Angeles

    • calendar_month Sen, 1 Mei 2023
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 14
    • 0Komentar

    LOS ANGELES – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil kembali menyambangi Amerika Serikat untuk menjadi salah satu pembicara kunci dalam kegiatan Milken Institute Global Conference di Beverly Hilton, Los Angeles, California, Senin (01/05/2023). Gubernur Ridwan Kamil bersama pesohor lainnya, di antaranya Menteri Ekonomi dan Perencanaan Arab Saudi Faisal Alibrahim, Direktur Eksekutif Elevandi Pat Patel, dan Kepala […]

expand_less