Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Kopiah Resam, Kerajinan Ramah Lingkungan Khas Bangka

Kopiah Resam, Kerajinan Ramah Lingkungan Khas Bangka

  • account_circle PROINDONESIA
  • calendar_month Kam, 6 Apr 2023
  • visibility 210
  • comment 0 komentar

Masyarakat Bangka Belitung pernah memberikan cendera mata kopiah resam kepada para peserta salah satu rangkaian Presidensi G20.

Beragamnya suku yang mendiami 38 provinsi di tanah air telah memberi sumbangsih besar dalam memperkaya khasanah budaya dan tradisi Nusantara. Setiap suku tentu memiliki adat istiadatnya masing-masing, yang terkadang tak dijumpai di daerah lainnya. Mereka pun sangat dekat dengan alam dan tak jarang membuat benda-benda untuk membantu kebutuhan sehari-hari dari bahan yang diambil di alam bebas.

Misalnya, tas noken yang merupakan kerajinan khas masyarakat Papua. Dibuat dari serat kulit kayu, tas itu berguna untuk membawa hasil bumi yang hendak dijual ke pasar atau sebagai tas belanja. Begitu pula baju kulit kayu, salah satu ciri khas masyarakat suku Dayak di Kalimantan.

Nah, masyarakat di Bangka Belitung pun memiliki tradisi memanfaatkan bahan dari alam untuk dijadikan songkok atau kopiah. Kopiah sendiri merupakan salah satu warisan budaya takbenda di provinsi berjuluk Serumpun Sebalai itu sejak 2015.

Penutup kepala yang biasa dipakai kaum adam untuk salat dan pelengkap saat acara adat seperti Sepintu SedulangRebo Kasan, dan Nganggung tersebut berasal dari resam (Dicranopteris linearis). Seperti dikutip dari website Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, resam merupakan tanaman dari keluarga paku-pakuan atau pakis (Pteridophyta).

Habitat resam adalah daerah tebing bersuhu lembab di kawasan perbukitan berketinggian 200-1.200 meter di atas permukaan laut. Ia dapat tumbuh hingga mencapai 1,5 meter dan paku-pakuan ini acap tumbuh melilit pada batang pohon lain serta bercabang.

Rimpang atau akar resam berbentuk umbi yang tumbuh di dekat permukaan tanah dan memiliki batang keras serta berongga. Ciri khas daunnya menyirip berjajar dua dan tangkainya bercabang mendua. Pada bagian bawah daun ada stomata berwujud bintik-bintik yang berfungsi sebagai alat penapasan.

Resam dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis dan subtropis, tersebar di Asia dan Pasifik. Kendati dikenal sebagai gulma atau pengganggu, resam pun dapat berfungsi sebagai tanaman obat.

Seperti disebutkan di dalam website Yayasan Kehati, resam dapat mengobati luka, sebagai obat batuk, obat infeksi saluran kencing, dan pemecah bisul. Tumbuhan ini kendati bersifat invasif dan mampu mendominasi permukaan tanah, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman lain. Pada kenyataannya, resam justru memberi manfaat lantaran mampu menyuburkan tanah dan menyerap racun di sekitar tempatnya tumbuh serta dapat dijadikan tanaman hias.

Bagi masyarakat suku Ketapik yang mendiami kawasan Desa Dendang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, resam mendapat tempat spesial karena bisa bernilai ekonomi tinggi. Lewat tangan-tangan terampil dan kreatif penduduk desa salah satu subsuku Melayu tersebut, resam dibuat naik kelas sebagai anyaman pembuat kopiah unik ramah lingkungan dan dalam perkembangannya juga dapat dibuat cincin atau gelang.

Turun-Temurun

Tradisi membuat kopiah resam sudah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur Desa Dendang. Hampir semua warga, khususnya kaum hawa, mampu membuat kopiah resam.

Proses membuat kopiah resam tergolong sulit dan menguras waktu, meski harga jualnya pun cukup tinggi, yakni berkisar Rp100 ribu hingga jutaan rupiah per songkok tergantung kualitas produk, kasar atau halus.

Tanaman resam sendiri tak sulit untuk mencarinya karena banyak ditemui di hutan-hutan sekunder Bangka Barat, perkebunan sawit, atau di sekitar kebun warga. Namun, tak semua resam dapat dianyam sebagai kopiah. Hanya batang resam tua yang memenuhi syarat karena lebih kuat dan lentur dianyam untuk menghasilkan sebuah kopiah berkualitas.

Caranya, kulit luar batang resam dikupas untuk diambil seratnya dan yang terbaik untuk dianyam ada di lapisan ketiga kulitnya dengan warna cokelat. Selanjutnya, serat-serat resam direndam ke dalam air selama tiga hari supaya lebih lentur. Angkat dan tiriskan untuk selanjutnya dijemur hingga kering. Setelah benar-benar kering, serat resam diserut memakai alat sederhana berupa tutup kaleng yang dilubangi kecil-kecil.

Nantinya, serat hasil serutan tersebut akan membentuk semacam benang kaku dan siap untuk dianyam mengikuti pola kopiah yang berbentuk lonjong. Umumnya pola atau cetakan songkok terbuat dari kayu. Supaya warna serat lebih terlihat, umumnya perajin akan merendamnya di dalam air rebusan kulit kayu semak (Syzygium muelleri) hingga berwarna cokelat keemasan dan segera diangkat untuk dikeringkan.

Proses penganyaman hingga selesai dan menciptakan sebuah songkok bisa berlangsung antara seminggu sampai tiga bulan. Semua bergantung dari tingkat kehalusan produk, karena makin halus tentu saja harganya makin mahal. Oh iya, sekadar gambaran, untuk menghasilkan kopiah bertekstur kasar hanya dibutuhkan waktu paling lama satu minggu.

Tetapi jika menginginkan kopiah bertekstur halus, maka proses pengerjaannya bisa mencapai tiga bulan. Agar ada variasi motif dan warna kopiah, misalnya dipadu warna putih, maka dapat dipakai serat akar pohon sulur. Setelah proses menganyam rampung, pekerjaan berikutnya adalah mengoleskan semacam lilin terbuat dari campuran madu hutan atau minyak kelapa supaya resam terlihat mengkilat dan lebih tahan lama.

Kopiah resam selain dipakai untuk salat lima waktu, juga dikenakan saat lebaran. Pamor kopiah jenis ini sudah melampaui Bangka Belitung dan menjadi oleh-oleh kerajinan khas untuk wisatawan dari provinsi penghasil timah dan lada tersebut. Ketika Pulau Belitung menjadi tuan rumah salah satu event pendukung Presidensi G20 berupa Development Working Group, pada 8 September 2022, para pesertanya mendapat oleh-oleh kopiah resam dari Penjabat Gubernur Ridwan Djamaluddin.

Terakhir, saat ini bahan baku kopiah di alam liar mulai berkurang karena makin gencarnya pembukaan lahan sawit dan secara tak langsung menghilangkan perlahan habitat resam. Oleh karena itu, perlu disiapkan langkah terpadu agar kopiah resam tidak hanya tinggal nama.

Penulis: Anton Setiawan

  • Penulis: PROINDONESIA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Salim Mengga Ajak Teladani Rasulullah, Kunci Wujudkan Keadilan di Negeri

    Salim Mengga Ajak Teladani Rasulullah, Kunci Wujudkan Keadilan di Negeri

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 141
    • 0Komentar

    MAMUJU – Wakil Gubernur Sulawesi Barat Salim S Mengga menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2025 Masehi di Masjid Baiturrahman, Karema Selatan, Kabupaten Mamuju, Sabtu (8/11/2025). Acara yang diselenggarakan Yayasan Puang Ri Panreng Persatuan Pengamal Tharikat Islam Naqsyabandiyah Sulbar ini dihadiri tokoh agama, ulama, dan masyarakat. Dalam sambutannya, pasangan Gubernur Sulbar Suhardi Duka ini […]

  • Salim Mengga Terima Audiensi Balai Pelestarian Kebudayaan

    Salim Mengga Terima Audiensi Balai Pelestarian Kebudayaan

    • calendar_month Jum, 11 Apr 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 95
    • 0Komentar

    MAMUJU – Menindaklanjuti Surat Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon soal pembentukan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 18, Muhammad Tang melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur (Wagub) Sulbar, Salim S Mengga. Wakil Gubernur Sulbar Salim S Mengga menceritakan perjalanan panjang peradaban di Sulbar, khususnya di wilayah Kalumpang, Kabupaten […]

  • Ustadz Hendri Gunawan Paparkan Empat Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah

    Ustadz Hendri Gunawan Paparkan Empat Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah

    • calendar_month Jum, 15 Nov 2024
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 131
    • 0Komentar

    MAMUJU – Lembaga Pengkajian dan Penerapan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPP-AIK) Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju) melaksanakan Pengajian Rutin Bulanan. Pengajian diikuti seluruh pimpinan, pengelola, civitas akademika dan dosen Unimaju serta Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah. Bertempat di Kampus II Unimaju, Jumat 15 November 2024. Ustadz Hendri Gunawan, S.Ud., M.Pd. membawakan materi dengan tema “Nilai-Nilai Pendidikan dan Kepemimpinan Nabi […]

  • Salim Mengga: 27,6% Stunting adalah PR Besar Kita Bersama

    Salim Mengga: 27,6% Stunting adalah PR Besar Kita Bersama

    • calendar_month Rab, 10 Sep 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 104
    • 0Komentar

    MAMUJU – Wakil Gubernur Sulbar Salim S Mengga, memimpin Kick Off Gerakan Cinta Posyandu sebagai upaya membangun sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkarakter. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring dan daring di Ruang Oval Lantai 3 Kantor Gubernur Sulbar, Selasa 9 September 2025. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Sulbar, Yakuf F. Solon, menjelaskan […]

  • Gubernur Ridwan Kamil Prihatin OTT Bupati Bogor, Pelaksanaan manajemen mudik di Bogor jangan terganggu

    Gubernur Ridwan Kamil Prihatin OTT Bupati Bogor, Pelaksanaan manajemen mudik di Bogor jangan terganggu

    • calendar_month Sel, 26 Apr 2022
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 231
    • 0Komentar

    KABUPATEN CIANJUR — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku prihatin terkait Operasi Tangkap Tangan Bupati Bogor Ade Yasin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Peristiwa tersebut baru diketahuinya pagi ini saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Cianjur. “Saya kaget tadi pagi baca berita ada OTT KPK, saya sangat prihatin,” kata Ridwan Kamil, Rabu (27/4/2022). Bupati Bogor Ade […]

  • Junda Maulana Terima Rekomendasi DPRD Atas LKPJ Gubernur Sulbar 2025

    Junda Maulana Terima Rekomendasi DPRD Atas LKPJ Gubernur Sulbar 2025

    • calendar_month Jum, 17 Apr 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 36
    • 0Komentar

    MAMUJU – Sekprov Sulbar Junda Maulana menghadiri rapat paripurna DPRD Sulbar terkait penyerahan rekomendasi DPRD terhadap LKPJ Gubernur tahun 2025, Kamis 16 April 2026. Rapat paripurna dipimpin Wakil Ketua DPRD Sulbar Suraidah Suhardi, dihadiri para anggota DPRD Sulbar, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). “Hari ini kita menerima rekomendasi DPRD Sulbar terhadap LKPJ Gubernur tahun anggaran […]

expand_less