Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Menengok Siklus Kehidupan Manusia di Museum Samsara Bali

Menengok Siklus Kehidupan Manusia di Museum Samsara Bali

  • account_circle PROINDONESIA
  • calendar_month Sab, 29 Jul 2023
  • visibility 121
  • comment 0 komentar

Konsep museum ini hadir berawal dari keprihatinan modernisasi yang menggerus adat dan budaya Bali. Apalagi kini jarang dipahami, terutama oleh generasi muda.

“Om Swastiastu…,” itulah sapaan yang dilontarkan penerima tamu saat melintasi gapura Museum Kehidupan Samsara atau Samsara Bali Living Museum, di Kabupaten Karangasem, Bali. Lokasinya tepatnya terletak di Desa Jungutan, Bebandem, Karangasem. Lokasinya sangat dekat di kaki Gunung Agung.

Konsep museum ini hadir berawal dari keprihatinan modernisasi yang menggerus adat dan budaya Bali. Apalagi kini jarang dipahami, terutama oleh generasi muda.

Museum Kehidupan Samsara adalah salah satu dari pengembangan Museum Kehidupan Karangasem yang mengangkat tema tentang siklus hidup manusia Bali. Dimulai dari berbagai nilai serta tradisi yang melekat sejak bayi berada di dalam kandungan, kemudian lahir ke dunia, hidup dan mati bahkan hingga menyatu dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa dan tercapainya kesempurnaan.

Konsep Museum Samsara adalah merekonstruksi rangkaian siklus kelahiran manusia Bali. Di mana semua dibingkai dalam ritual, sarana upakara. Dan pemaknaan di balik simbol-simbol tersebut menjadi informasi praktis yang dapat menjadi pengayaan pengalaman.

Setidaknya ada 14 rentetan upacara Hindu yang disajikan dalam bentuk foto beserta penjelasan dan alatnya di dalam museum.

Selain itu, di museum ini juga diperlihatkan kegiatan aktivitas sehari masyarakat setempat. Dari mulai pembuatan sarana tetabuhan (arak, brem), meulat-ulatan, mejejahitan, melukis wayang, bahkan sampai kegiatan kesenian khas seperti mecakepung/genjek, dan ngoncang.

Staf operasional Museum Samsara Ida Bagus Wisnawa, seperti dikutip dari Antaranews, Minggu (25/6/2023), mengatakan bahwa selain sebagai tempat konservasi budaya, mereka juga ingin menjelaskan alasan logis mengapa semua upacara dalam siklus kehidupan itu harus dilakukan oleh masyarakat Hindu di Pulau Dewata itu.

Saat wisatawan tiba di lokasi itu, pertama mereka akan diberikan kain beserta selendang dan jamu sebagai minuman selamat datang. Lebih lanjut, pengunjung akan melihat proses ngoncang atau menumbuk padi secara tradisional yang dilakukan oleh ibu-ibu sekitar.

Setelah itu, pengunjung didampingi oleh pemandu yang akan menjelaskan isi museum dan apa yang ada di sekitarnya. Objek wisata dan wisata edukasi ini terbentang di areal seluas 80 are atau 8.000 meter persegi, berisi ruang hijau terbuka dan beberapa bangunan tradisional, salah satunya gedung museum yang menjabarkan 14 tahapan upacara pada siklus hidup manusia Bali.

Apa saja 14 tahapan upacara adat di Bali? Tahap pertama dari upacara manusia Bali adalah Ngrujak, yang diberikan kepada wanita yang sedang hamil muda, dengan tujuan memperkuat kehamilan ibu dan mengurangi risiko keguguran. Beragam buah dicampurkan untuk dikonsumsi pada tahap ini, seperti pisang, delima, pepaya, mangga, belimbing, badung, kecubung, gula aren, dan madu.

Tahap kedua, Magedong-gedongan, yaitu upacara untuk wanita dengan usia kehamilan 3–6 bulan yang bertujuan memurnikan dan menjaga keselamatan janin dan ibu, agar nantinya sang anak lahir menjadi orang yang baik.

Ketiga, setelah bayi lahir dilakukan Nanem Ari-ari, dengan tujuan memohon perlindungan, umur panjang, serta keselamatan bagi si bayi, di mana ari-ari dicuci sampai bersih, dibungkus dengan kain kasa, diisi rempah-rempah, dimasukkan ke dalam kelapa lalu dikuburkan.

Selanjutnya Kepus Wedel, yaitu ritual khusus ketika plasenta terlepas dari pusar bayi, biasanya 5–15 hari setelah bayi lahir. Kelima, Mapag Rare, yaitu penyambutan kepada bayi yang berusia 12 hari sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan.

Keenam, Ngeles Kekambuh, upacara yang dilakukan kepada bayi setelah berusia satu bulan tujuh hari atau 42 hari. Pada saat bayi berusia tiga bulan atau 105 hari digelar upacara Nelu Bulanin, kemudian pada usia enam bulan digelar Ngenem Bulanin, di mana bayi diizinkan menginjak tanah untuk pertama kalinya.

Tahap kesembilan yaitu Mekutang Rambut, yaitu penanda bahwa bayi telah menjadi manusia sempurna dan pada tahap ini dilakukan upacara pemotongan rambut. Selanjutnya, Semayut Meketus lan Menek Kelih, yaitu upacara yang diberikan untuk anak yang kehilangan gigi pertamanya dan ketika anak menginjak remaja.

Setelah menginjak remaja, anak dapat melakukan upacara Metatah atau dikenal potong gigi, selanjutnya Pawiwahan atau menikah. Ketika meninggal dunia, manusia Hindu Bali akan dibuatkan upacara Ngaben, dan tahap terakhir dalam siklus hidup adalah Atma Wedana, yaitu upacara untuk menyatukan kembali kepada Sang Pencipta.

Setelah diberi edukasi soal tahapan hidup yang becermin dari kearifan Desa Jungutan, wisatawan akan diperlihatkan nama-nama dalam pohon keluarga di Bali.  Pengalaman ini menunjukkan bahwa umat Hindu di Bali selalu mencatat asal dan siapa leluhurnya.

Selepas keluar dari gedung, pengunjung akan diajak beraktivitas sambil menyaksikan kehidupan langsung masyarakat yang tinggal di dalam museum. Dari total 100 orang warga lokal atau 30–40 kepala keluarga yang terlibat, beberapa di antaranya tinggal dan melakukan segala aktivitas di museum itu.

Lalu selanjutnya, pengunjung akan dibawa ke dapur khas Bali yang identik dengan ukuran rendah, sehingga harus jongkok atau duduk ketika memasak, dan untuk menyalakan api diperlukan kayu.

Di sana, pemandu akan menjelaskan proses pembuatan arak Bali, mulai dari masyarakat yang mengambil kelapa dengan memanjat pohon langsung, menirakan, proses penyulingan, hingga pengemasan. (indonesia.go.id)

  • Penulis: PROINDONESIA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekda Herman Ajak IKAPTK Berperan Aktif Akselerasi Pembangunan Jabar

    Sekda Herman Ajak IKAPTK Berperan Aktif Akselerasi Pembangunan Jabar

    • calendar_month Ming, 14 Jul 2024
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 110
    • 0Komentar

    KABUPATEN MAJALENGKA – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengajak pengurus Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) Provinsi Jabar untuk berperan aktif dalam mengakselerasi pembangunan. “Kami berharap keluarga besar IKAPTK terdepan dalam turut mengakselerasi pencapaian indikator makro pembangunan Jawa Barat, agar Jawa Barat menjadi (provinsi) termaju di Indonesia,” ucap Herman saat menghadiri acara […]

  • Menyelamatkan Raksasa Pengembara Samudra dari Kepunahan

    Menyelamatkan Raksasa Pengembara Samudra dari Kepunahan

    • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Perairan Indonesia yang beriklim tropis dan hangat kerap disinggahi hiu paus dan membentuk koloni. Seperti di Sumbawa, Probolinggo, dan Bone Bolango. Ikan hiu paus atau whale shark adalah salah satu spesies terbesar dalam keluarga hiu (Rhincodontidae). Ciri khas ikan bernama latin Rhincodon typus tersebut memiliki ukuran tubuh yang besar, pejantan dewasa umumnya antara 7–10 meter atau setara panjang bus […]

  • Pemdaprov Jabar Luncurkan Asset Award Jawa Barat 2023

    Pemdaprov Jabar Luncurkan Asset Award Jawa Barat 2023

    • calendar_month Rab, 12 Apr 2023
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 117
    • 0Komentar

    KABUPATEN BANDUNG — Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat meluncurkan Asset Award Jawa Barat 2023 di Grand Shunsine Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (12/4/2023). Asset Award ini diselenggarakan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jabar sebagai stimulus pengelolaan aset daerah yang berkemajuan. Sekretaris Daerah Provinsi Jabar Setiawan Wangsaatmaja mengapresiasi ajang ini guna mendorong optimalisasi aset yang […]

  • Selama MPLS, Bey Dorong Siswa Banyak Komunikasi dengan Orang Tua

    Selama MPLS, Bey Dorong Siswa Banyak Komunikasi dengan Orang Tua

    • calendar_month Kam, 18 Jul 2024
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 106
    • 0Komentar

    KABUPATEN KUNINGAN — Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin meninjau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 3 Kabupaten Kuningan, Kamis (18/7/2024). Kepada pelajar yang sedang mengikuti MPLS, Bey mewanti-wanti agar mereka berani bercerita kepada orang tua di rumah terkait kegiatan yang dilakukan selama di sekolah. Hal itu, menurutnya dapat mengurangi beban seorang pelajar […]

  • Ridwan Kamil Resmikan Dua Pasar Hasil Revitalisasi di Cirebon

    Ridwan Kamil Resmikan Dua Pasar Hasil Revitalisasi di Cirebon

    • calendar_month Jum, 4 Mar 2022
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 265
    • 0Komentar

    CIREBON — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meresmikan dua pasar tradisional sekaligus hasil revitalisasi Program Pasar Rakyat Jabar Juara di Kabupaten Cirebon, Jumat (4/3/2022). Kedua pasar terbesar se-wilayah III Jabar itu adalah Pasar Pasalaran dan Pasar Kue Weru. ”Istimewa, biasanya saya hanya meresmikan satu pasar tapi sekarang sekaligus dua pasar di Cirebon, menandakan betapa pentingnya […]

  • Wagub Jabar dan Menteri Sosial Hadiri Hari Lanjut Usia Nasional di Tasikmalaya

    Wagub Jabar dan Menteri Sosial Hadiri Hari Lanjut Usia Nasional di Tasikmalaya

    • calendar_month Ming, 29 Mei 2022
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 176
    • 0Komentar

    KABUPATEN TASIKMALAYA — Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menghadiri acara Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-26 Tahun 2022 bersama Menteri Sosial Republik Indonesia Tri Rismaharini di Rumah Sakit Singaparna Medika Citrautama (SMC), Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (29/5/2022). Pak Uu –sapaan Wagub Jabar– melaporkan, jumlah lansia, khususnya lansia tunggal, di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi. “Ini […]

expand_less