Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » EKONOMI » Indonesia Mewujudkan Asa Swasembada Pangan

Indonesia Mewujudkan Asa Swasembada Pangan

  • account_circle PROINDONESIA
  • calendar_month Kam, 19 Des 2024
  • visibility 223
  • comment 0 komentar
JAKARTA – Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi lumbung pangan dunia, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi petani, masyarakat, dan ekosistem.

Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada pangan terwujud dalam waktu 4–5 tahun mendatang, dengan visi ambisius menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Presiden Prabowo Subianto pun berkomitmen untuk mencapai target ini melalui serangkaian kebijakan strategis yang mencakup pengembangan food estate, peningkatan infrastruktur pertanian, dan modernisasi sektor agribisnis.

Untuk mendukung program swasembada pangan, pemerintah merancang sejumlah langkah strategis, antara lain, pertama, pengembangan food estate  yang berfokus pada tanaman padi, jagung, singkong, kedelai, dan tebu dengan target penambahan luas panen hingga 4 juta hektare pada 2029.

Kedua, penyediaan input pertanian. Pemerintah berjanji memberi akses langsung kepada petani untuk mendapatkan pupuk, benih unggul, dan pestisida. Ketiga, modernisasi pertanian yang mencakup percepatan pembangunan infrastruktur pertanian, pemanfaatan teknologi pangan terpadu, mekanisasi, dan inovasi digital. Mekanisme ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas petani.

Keempat, pembangunan infrastruktur dasar berupa percepatan pembangunan irigasi, jalan desa, jaringan listrik, dan internet di daerah pedesaan, serta fasilitas perbaikan alat pertanian di tingkat kecamatan. Dan yang kelima, berupa mendirikan lembaga pembiayaan usaha taniyang bertujuan memberikan kemudahan bagi petani agar dapat mengakses modal usaha yang lebih mudah.

Langkah-langkah ini juga didukung oleh kebijakan percepatan distribusi pupuk subsidi. Sebagai informasi, ketika Pemerintahan Prabowo berusia 25 hari pertama,  pemerintahan baru itu telah melakukan regulasi distribusi dipangkas untuk memastikan petani bisa mendapatkan pupuk subsidi dengan cepat, terutama pada awal 2025.

Pelajaran dari Masa Lalu

Ambisi swasembada pangan bukanlah hal baru. Pemerintah sebelumnya telah mencoba mengimplementasikan kebijakan serupa, termasuk program food estate. Sayangnya, banyak dari program ini menemui kegagalan karena beberapa alasan utama:

  • Ketidaksesuaian dengan kondisi sosial budaya: Program yang dirancang tanpa mempertimbangkan karakteristik sosial dan budaya lokal sering kali tidak diterima oleh masyarakat setempat.
  • Pengelolaan lahan yang tidak tepat: Banyak food estate dibangun di lahan yang tidak cocok untuk pertanian intensif, menyebabkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial.
  • Minimnya partisipasi masyarakat lokal: Keterlibatan masyarakat lokal dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan sering kali diabaikan.

Dampaknya, alih-alih meningkatkan ketahanan pangan, program-program ini justru menyebabkan degradasi lingkungan, kemiskinan, dan konflik sosial. Dalam konteks mencapai tujuan swasembada pangan, pemerintah tentu harus melakukan  pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan diperlukan.

Berikut enam kriteria utama yang perlu diperhatikan, pertama, mengintegrasikan aspek produksi di on-farm dan off-farm untuk menciptakan sistem agribisnis yang saling mendukung. Kedua, program harus memberikan keuntungan ekonomi bagi petani agar kesejahteraan mereka meningkat. Ketiga, memperhatikan keberlanjutan ekologi. Keempat, memastikan semua program mendukung konservasi sumber daya alam dan kesehatan ekosistem.

Kelima, aspek penerimaan sosial, di mana program yang diinisiasi pemerintah harus menghormati hak-hak petani. Dan, keenam, melibatkan mereka secara aktif dalam pengambilan keputusan.

Tidak itu saja, pendekatan selaras dengan memperhatikan nilai budaya setempat juga harus menjadi perhatian dengan memperhatikan norma dan nilai budaya setempat, dan terakhir perlu adanya insentif bagi petani berupa perlindungan seperti asuransi pertanian untuk melindungi petani dari ketidakpastian pasar.

Mengatasi Tantangan 

Meski berbagai langkah telah dirancang, sejumlah tantangan tetap harus diatasi, antara lain masalah alih fungsi lahan. Seagai informasi, setiap tahun, ada sekitar 100.000-110.000 hektare lahan pertanian beralih fungsi, baik karena pembangunan maupun faktor lainnya.

Selain itu, masalahnya kebanyakan petani saat ini berusia lansia: Data Sensus Pertanian BPS 2023 menunjukkan mayoritas petani Indonesia berusia 55 tahun ke atas, dengan adaptasi teknologi yang rendah.

Tidak itu saja, persoalan irigasi juga menjadi kendala. Ketersediaan air yang tidak merata di berbagai daerah menjadi kendala utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian selain dampak perubahan iklim yang tidak menentu menyebabkan penurunan hasil produksi.

Program swasembada pangan harus lebih dari sekadar meningkatkan produksi. Produktivitas, kesejahteraan petani lokal, dan kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama.

Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis bukti, program ini diharapkan tidak hanya mencapai swasembada pangan tetapi juga menciptakan sistem pangan berkelanjutan yang mendukung kedaulatan pangan nasional.

Dengan memenuhi kriteria keberlanjutan dan mengatasi tantangan yang ada, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi lumbung pangan dunia, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi petani, masyarakat, dan ekosistem. (***)

  • Penulis: PROINDONESIA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kerja Bersama Mengatasi Ancaman Krisis Air

    Kerja Bersama Mengatasi Ancaman Krisis Air

    • calendar_month Jum, 10 Mar 2023
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 80
    • 0Komentar

    BMKG mengingatkan pentingnya pemanfaatan teknologi dan membangun ketangguhan nasional demi mengantisipasi ancaman krisis air global. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2021 memperingatkan kepada dunia atas ancaman krisis air global. Mengingat sebagian besar negara di dunia tidak siap menghadapi krisis air, seperti banjir dan juga kekeringan, yang diperkirakan akan memburuk seiring perubahan iklim. Sementara itu, merujuk laporan […]

  • Ketua DPRD Sulbar Terima LHP BPK Bidang Ketahanan Pangan

    Ketua DPRD Sulbar Terima LHP BPK Bidang Ketahanan Pangan

    • calendar_month Jum, 13 Feb 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 58
    • 0Komentar

    MAMUJU – Ketua DPRD Sulbar Amalia Fitri Aras, menerima kunjungan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam rangka penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK terkait Bidang Ketahanan Pangan. Pertemuan berlangsung di Ruang Kerja Ketua DPRD Sulbar, Rabu,l 11 Februari 2026. Dalam kesempatan itu, Ketua DPRD Sulbar didampingi Sekretaris DPRD Sulbar Arianto AP., bersama Kebag Persidangan dan Perundang-undangan […]

  • Momentum Hari Keterbukaan Informasi Nasional, Kominfo Sulbar Dorong Transparansi dan Layanan Responsif

    Momentum Hari Keterbukaan Informasi Nasional, Kominfo Sulbar Dorong Transparansi dan Layanan Responsif

    • calendar_month Jum, 1 Mei 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 21
    • 0Komentar

    MAMUJU –Peringatan Hari Keterbukaan Informasi Nasional yang diperingati setiap 30 April menjadi pengingat bagi pemerintah untuk terus membuka akses informasi. Momentum ini juga menegaskan arahan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, agar setiap OPD menghadirkan layanan informasi yang cepat, tepat, dan akuntabel. Kepala Dinas Kominfo Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar, menyatakan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan […]

  • Berlangsung Meriah, PMI Sulbar Apresiasi Jumbara II PMI Pasangkayu

    Berlangsung Meriah, PMI Sulbar Apresiasi Jumbara II PMI Pasangkayu

    • calendar_month Rab, 24 Jul 2024
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 109
    • 0Komentar

    PASANGKAYU – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pasangkayu melaksanakan Jumpa Bakti dan Gembira (Jumbara) II Palang Merah Remaja (PMR) tingkat kabupaten. Jumbara yang diikuti PMR Tingkat Madya dan PMR Tingkat Wira se Kabupaten Pasangkayu dilaksanakan di Lapangan Desa Pajalele, Tikke Raya, Rabu 24 Juli 2024. Tema Jumbara II PMI Kabupaten Pasangkayu Tahun 2024 yakni “Bersatu […]

  • Tinjau Seksi IV Tol Cisumdawu, Ridwan Kamil: Cisumdawu Tembus Cipali untuk Mudik Lebaran

    Tinjau Seksi IV Tol Cisumdawu, Ridwan Kamil: Cisumdawu Tembus Cipali untuk Mudik Lebaran

    • calendar_month Sen, 10 Apr 2023
    • account_circle Pro Indonesia
    • visibility 118
    • 0Komentar

    KABUPATEN SUMEDANG — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meninjau kesiapan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) yang akan menunjang pergerakan kendaraan masyarakat pada saat arus mudik dan balik Lebaran 2023 di Kabupaten Sumedang, Senin (10/4/2023). Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– menuturkan, pengguna jalan Tol Cisumdawu dapat menuju Tol Cipali untuk bergabung dalam arus besar jalur utara menuju Cirebon […]

  • Mempermudah Izin Usaha Pengisian Daya Kendaraan Listrik

    Mempermudah Izin Usaha Pengisian Daya Kendaraan Listrik

    • calendar_month Sen, 9 Okt 2023
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Persetujuan lingkungan dalam pendirian SPKLU kian mudah demi mendorong terciptanya ekosistem kendaraan listrik. Tekad Indonesia untuk menurunkan emisi karbon terus diupayakan. Salah satu caranya adalah mendorong penggunaan mobil listrik, sebagai wujud industri otomotif yang rendah emisi karbon. Dalam konteks menekan emisi karbon, pemerintah telah menetapkan target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Bahkan, dalam rangka […]

expand_less