Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » Membuka Kembali Lembaran 100 Tahun Sejarah Kereta Api di Sulawesi

Membuka Kembali Lembaran 100 Tahun Sejarah Kereta Api di Sulawesi

  • account_circle PROINDONESIA
  • calendar_month Rab, 5 Apr 2023
  • visibility 231
  • comment 0 komentar

Pada 1923, masyarakat Sulawesi Selatan pernah menikmati jalur trem dari Stasiun Pasar Butung, Makassar ke Takalar. Namun Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kemudian menutup jalur itu.

Setelah penantian panjang selama hampir satu abad, akhirnya masyarakat Sulawesi kembali dapat menikmati transportasi kereta.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (29/3/2023) meresmikan pengoperasian jalur kereta api (KA) Makassar-Parepare lintas Maros-Barru di Sulawesi Selatan (Sulsel). Usai meresmikan Presiden Jokowi) dan Ibu Negara Iriana Jokowi langsung menjajal kereta rel diesel eletrik (KRDE) yang melintas di jalur tersebut. Presiden menaiki kereta dari Depo Kereta Api Maros menuju Stasiun Rammang-Rammang, Maros.

Di Stasiun Maros kereta yang dinaiki Presiden berhenti sejenak. Di sana puluhan pelajar SD dan SMP serta warga sekitar Sulsel turut menaiki kereta yang kemudian melaju kembali menuju Stasiun Rammang-Rammang. Selama perjalanan, Presiden dan Ibu Negara berbincang-bincang dengan siswa dan warga.

Dari gerbong KRDE terlihat pemandangan yang memanjakan mata terdiri dari hamparan sawah hijau yang membentang serta gugusan pegunungan karst saat memasuki daerah Rammang-Rammang. Kawasan Rammang-Rammang termasuk dalam kawasan Geopark Maros Pangkep yang diakui oleh UNESCO Global Park (UGG).

Kereta api ini merupakan bagian dari pembangunan Kereta Api Trans Sulawesi yang akan menghubungkan antarprovinsi di Sulawesi mulai dari selatan (Makassar) sampai ke Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Pembangunan rel KA di Bumi Celebes ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).

Presiden Jokowi mengatakan, kehadiran kereta api ini diharapkan akan meningkatkan minat masyarakat di Sulawesi untuk mengutamakan penggunaan angkutan massal. “Kita harapkan orang tidak berbondong-bondong naik kendaraan pribadi. Dengan kereta yang nyaman, dingin, dan bersih ini, orang akan berpindah naik kereta sehingga jalan tidak macet,” ujar Presiden.

Kepala Negara mengungkapkan, pemerintah akan terus membangun transportasi massal di berbagai daerah untuk memperlancar konektivitas baik penumpang maupun barang, antarwilayah provinsi, kota, serta kabupaten.

Kehadiran layanan angkutan kereta api di Sulawesi, khususnya Sulsel. Karena itu, diharapkan dapat melancarkan pergerakan penumpang dan barang, mendukung potensi pariwisata, menyerap tenaga kerja dan lapangan pekerjaan baru. Sekaligus mengembangkan UMKM masyarakat sekitar dan meningkatkan daya saing daerah.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan jalur KA Maros-Barru (Garongkong) merupakan perkembangan dari proyek pembangunan KA Makassar-Parepare. Dari total jalur sepanjang 157,7 km, sepanjang 142 km-nya merupakan lintas utama dan 15,7 km siding track yang menghubungkan kereta api dengan Pelabuhan Garongkong dan Pabrik Semen Tonasa. KRDE ini juga turut mendistribusikan logistik termasuk semen dari Tonasa.

Hingga saat ini, telah terbangun jalur kereta sepanjang 118 km. Dari jalur itu, sepanjang 90 km mulai dari Stasiun Maros sampai ke Stasiun Barru sudah siap dioperasikan dengan melintasi 10 stasiun. Sarana yang akan digunakan pada jalur kereta api ini adalah Kereta Rel Diesel Elektrik buatan dalam negeri dari PT INKA sebanyak dua set rangkaian dan mampu menampung 248 orang/rangkaian.

Kereta ini mampu melaju hingga 90 km per jam, sehingga memangkas waktu tempuh dari Makassar menuju Parepare yang semula tiga jam menjadi 1,5 jam saja. Rencananya, kereta ini akan dioperasikan delapan perjalanan per hari.

Sejak beroperasi mulai November 2022 lalu, kehadiran kereta pertama di Sulawesi ini mendapat antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Hingga Maret 2023, sudah mengangkut penumpang berjumlah 25.699 orang, dengan rata-rata okupansi 78,02 persen dari kapasitas total 90 penumpang menggunakan kereta wisata.

Sampai saat ini, masyarakat bisa menikmati layanan kereta wisata secara gratis. Banyaknya destinasi wisata yang dilalui jalur kereta ini menjadi daya tarik bagi masyarakat.

Adapun, nilai investasi pembangunan proyek KA Makassar-Parepare berjumlah Rp9,28 triliun, yang berasal dari APBN, pembiayaan Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta pengadaan tanah oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) dan APBD. Pembangunan proyek ini dimulai sejak 2014.

Bermula dari Trem

Mengutip dari laman KAI Heritage, sebenarnya keberadaan jalur rel di Sulawesi bukan barang baru. Berdasarkan buku Nederlandsch Indische Staatsspoor en Tramwegen (1921) halaman 108 menerangkan bahwa studi kelayakan jalur perkeretaapian oleh swasta sudah dimulai sejak 1915. Hasil laporannya secara teknis sebenarnya jalur bisa dibangun tetapi tidak sesuai harapan investor, alias tidak akan membawa keuntungan bagi swasta yang akan berinvestasi.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda kala itu pun berkesimpulan bahwa jalur perkeretaapian akan dibangun oleh negara. Pada 1917 penelitian teknis lapangan versi pemerintah dilakukan untuk lintas Makassar-Takalar dan Makassar-Maros-Tanete-Parepare-Sengkang. Dari hasil studi mengungkap bahwa yang paling realistis dan sesuai dengan bujet negara adalah pembangunan dan eksploitasi jalur trem.

Sesuai Staatsblad nomor 224 tahun 1892, pembangunan jalur trem tidak serumit jalur kereta api, sehingga meski kecepatan lebih lambat dan daya angkut lebih sedikit, biaya yang dikeluarkan lebih hemat dan efisien daripada membangun jalur kereta api. Pada 1 Juli 1922, rel antara Stasiun Pasar Butung, Makassar-Takalar selesai dibangun dan setahun kemudian trem uap resmi dibuka untuk umum.

Lintas ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir yang dibangun pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan rute Maros–Tanete yang sudah disiapkan desainnya tidak pernah terlaksana pembangunannya.

Boleh jadi, ketiadaan industri perkebunan di Sulawesi dan belum masifnya produksi tambang nikel menyebabkan jalur trem Makassar-Takalar hanya bertahan tujuh tahun. Sejak 1930 layanan kereta trem uap terpaksa ditutup karena subsidi dari Staatsspoor en Tramwegen (jawatan kereta api dan trem negara di Jawa) untuk Staatstramwegen op Celebes dihentikan akibat krisis ekonomi dunia Depresi Besar pada 1929.

Selain faktor krisis ekonomi yang melanda dunia pada saat itu, ada beberapa hal lain yang menjadi sebab operasional trem uap di Sulawesi pada zaman Belanda menjadi kurang menguntungkan. Rencana mewujudkan jalur kereta api di Sulawesi kembali dirintis di era Pemerintahan KH Abdurrahman Wahid-Megawati Soekarnoputri pada 2001.

Selain menghubungkan antarkota di penjuru pulau Sulawesi, rel kereta api juga dibangun sebagai akses arus barang dan penumpang dari dan menuju pelabuhan laut serta bandar udara. Pada 2002 dan 2003 pemerintah menyelenggarakan studi kelayakan untuk lintas Manado-Bitung dan Makassar-Parepare.

Dua tahun kemudian kajian studi diperluas menjadi Makassar-Takalar-Bulukumba. Pada 1 Juni dan 28 Desember 2012, Kementerian Perhubungan dan Pemprov Sulawesi Selatan menandatangani Nota Kesepahaman tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian Nasional di Pulau Sulawesi.

Rencana pembangunan pun semakin dimatangkan dengan keluarnya hasil studi terkait Detail Engineering Design (DED) pembangunan jembatan kereta api dari Makassar hingga Parepare disusul hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan pada rute yang sama pada 2014. Sejak itulah, dibangun rel kereta api dari Maros ke Parepare.

Kini masyarakat Sulawesi punya alternatif transportasi dengan bepergian menggunakan KRDE.

Penulis: Kristantyo Wisnubroto

  • Penulis: PROINDONESIA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bey Machmudin: Koperasi Miliki Peran Penting Lengkapi Ekosistem Usaha Rakyat

    Bey Machmudin: Koperasi Miliki Peran Penting Lengkapi Ekosistem Usaha Rakyat

    • calendar_month Jum, 12 Jul 2024
    • account_circle mbahdot
    • visibility 230
    • 0Komentar

    KABUPATEN KARAWANG — Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin menghadiri Peringatan Hari Koperasi Ke-77 Tingkat Provinsi Jabar sekaligus membuka Gelar Produk Koperasi di Lapangan Street Carnival Galuh Mas, Kabupaten Karawang, Jumat (12/7/2024). Selain itu, Bey juga melakukan Penandatanganan Nota Kesepakatan Sinergi Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi Melalui Pembiayaan Ultra Mikro di Jabar. Dalam sambutannya Bey mengatakan, […]

  • Tutup Festival Sandeq Teluk Mandar 2025, Suhardi Duka: Tahun Depan Kita Lebih Meriahkan Lagi

    Tutup Festival Sandeq Teluk Mandar 2025, Suhardi Duka: Tahun Depan Kita Lebih Meriahkan Lagi

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 130
    • 0Komentar

    MAJENE – Gubernur Sulbar Suhardi Duka menutup festival Sandeq Teluk Mandar 2025 di Kabupaten Majene, Minggu 14 September 2025. Hadir juga Bupati Majene Andi Sukri Tammalele, Wakil DPRD Sulbar Suraidah Suhardi, Ketua Komisi 1 DPRD Sulbar Syamsul Samad, Anggota DPRD Sulbar Sukri Umar, Wakil Bupati Majene dan pimpinan OPD. Lomba Sandeq segitiga ini dilaksanakan beberapa […]

  • Wagub Jabar Apresiasi Petugas Penjaga Pintu Air Pertahankan Ketersediaan Air untuk Masyarakat

    Wagub Jabar Apresiasi Petugas Penjaga Pintu Air Pertahankan Ketersediaan Air untuk Masyarakat

    • calendar_month Rab, 1 Jun 2022
    • account_circle mbahdot
    • visibility 257
    • 0Komentar

    KABUPATEN KARAWANG – Pelaksana Harian Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum memberikan arahan dan pembinaan kepada petugas penjaga pintu air wilayah Karawang, di Bendungan Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Rabu (1/6/2022). Pak Uu –sapaan karib Uu Ruzhanul Ulum- mengatakan, konsep pembangunan berwawasan lingkungan menjadi hal mutlak yang harus ada dalam perencanaan pembangunan, yang dapat membawa […]

  • Antisipasi Rusak Berat, Surya Yuliawan Tinjau Jembatan Sungai Bonehau

    Antisipasi Rusak Berat, Surya Yuliawan Tinjau Jembatan Sungai Bonehau

    • calendar_month Jum, 9 Jan 2026
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 121
    • 0Komentar

    MAMUJU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus menindaklanjuti peninjauan lapangan pada Jembatan Sungai Bonehau di ruas Jalan Bonehau–Kalumpang, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju. Jembatan ini menggunakan konstruksi rangka baja dengan panjang bentang 100 meter dan lebar 5 meter, guna menjamin kekuatan struktur dan keselamatan pengguna jalan. […]

  • Perlu ‘Road Map’ Khusus Atasi Persoalan Ketersediaan Pustakawan di Indonesia

    Perlu ‘Road Map’ Khusus Atasi Persoalan Ketersediaan Pustakawan di Indonesia

    • calendar_month Sab, 8 Apr 2023
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 135
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah menilai perlu ada peta jalan (road map) khusus untuk mengatasi persoalan ketersediaan pustakawan di Indonesia. Menurutnya, terdapat kesenjangan yang tinggi antara ketersediaan dan kebutuhan pustakawan. Saat ini, menurutnya, ketersediaan pustakawan di Indonesia hanya bisa meng-cover kebutuhan sebanyak 7,51 persen, sementara sebesar 92,49 persen belum dapat terpenuhi kebutuhan pengadaannya. […]

  • Sewindu Mengarungi Disrupsi Multidimensi

    Sewindu Mengarungi Disrupsi Multidimensi

    • calendar_month Ming, 9 Mar 2025
    • account_circle PROINDONESIA
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Oleh: Firdaus, Ketua Umum SMSI DISRUPSI teknologi kian menjadi-jadi ketika organisasi pers Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) genap berusia sewindu pada Jumat, 7 Maret 2025. Disrupsi tidak kunjung mereda, bahkan memasuki babak baru: disrupsi multidimensi. Ciri multidimensi ditandai dengan serangan dari berbagai sisi. Dari berbagai sisi media dilumpuhkan satu sama lain. Dari sisi bisnis, keredaksian, […]

expand_less